My comment on what i see

Raising My Son..

“I’m not raising my son, I’m raising somebody’s husband and somebody’s father”

Kutipan itu aku lihat di Moms Club, yaitu sebuah forum di Facebook yang berisi ungkapan2 tentang perasaan Ibu gitu.. bagus2 deh! Kayaknya si yang bikin orang luar yah..

Kutipan tersebut sangat menyadarkan MumiShai, “iya yah, aku ni sedang membesarkan seorang calon imam loh! bukan cuma seperti membesarkan tumbuhan hahhahaha” (yakalee anak disamain sama taneman) 

Cuma kalau dipikir2 lagi, ibarat tanaman aja supaya tumbuh besar dan buahnya bisa dimakan, harus dirawat dengan langkah yang benar. Bibitnya, pupuknya, cara menyiramnya dan lain2 akan sangat pengaruh kepada perkembangan tanaman itu sendiri. Apalagi seorang anak kan? 

Aku sebetulnya sangat buta membesarkan seorang anak laki2. Karena lingkunganku didominasi dengan kaum hawa, jadilah aku agak gelagapan juga pas tau anak aku laki2, “gimana cara membesarkannya ya? masa aku harus belajar naik sepeda? (karena gue gk bisa haha), belajar onderdil mobil? kenalan sama macem2 games cowok?”

Untunglah Bapakshai sayang dan perhatian banget sama Shaidan. Dari usia 40 hari sampe hari ini, Abang Shai selalu dimandiin BapakShai tiap pagi. Bapakshai juga suka nemenin Abang Shai main mobil2an, main bola, main karet (lohh salah ya hehe) Jadi ada sosok seorang laki2 selain kakeknya yang sering abang shai temui. At least Shaidan jadi bisa membedakan sosok laki2 dan perempuan.

Perkembangan era sekarang bikin aku super takut membesarkan anak. Banyak banget aku liat laki2 yang “belok” jadi kaya perempewi *nauzubilaminzalik* bukan bermaksud merendahkan kaumnya mereka, tapi orangtua mana yang berharap anak laki2nya tumbuh seperti itu?

Selain itu, issue kekerasan juga kerap kali datang di layar HP kita lewat broadcast2 message. Pelakunya tak lain anak laki2, bahkan ada yang masih bisa dibilang “bocah” laki2 usia belasan tahun. Miris kan? Padahal seumuran mereka pada jamanku dulu sebandel2nya cuma cobain rokok, cabut sekolah dan coba2 nyetir mobil. Sekarang? bacok2an! Temen sendiri di bully, baik fisik maupun via dunia maya. Huhuhu kenapa sii kalian?? Siapa yang menggerakan kalian sampe kayak gitu?? Apa kalian nggak kasian sama orangtua kalian?? (hmm skrg udah jadi emak2 baru berasa ya)

Walhasil aku cuma bisa pasrah sama Tuhan aku, sama Allah Ta’ Ala, supaya anakku jadi anak yang soleh, selalu dalam lindungan Allah dan selalu sehat aamiin.. Untuk jadi anak yang soleh pun gak cuma dengan berdoa aja kan.. kita juga harus ikhtiar mengarahkan anak kita kepada jalannya Allah.. Ilmu agamaku masih jauh dari sempurna, masih super dangkal. Aku dari kecil disekolahkan di sekolah islam ternama sampai SMA. Buatku si membantu banget ya untuk pengenalan dan hafalan doa2, karena di rumah, mamaku juga jauh pengetahuannya tentang agama. Maka aku juga tertarik untuk membawa Shaidan kelak ke sekolah islami. 

Tapi.. aku sedih lagi liat issue SARA yang lagi berkembang bak mall2 di Jakarta yang makin megah2 (wkwkwk) kenapa si yang tadinya kita damai2 aja dengan keberagaman, sekarang harus bawa agama ke setiap aspek? Kadang pemicunya pun lingkungan, anak2 di doktrin untuk mengkafir2kan orang yang mereka sendiri belum paham arti kafir itu apa sebenarnya. Maka dalam hal ini sekolah agama pun juga amatlah penting untung diseleksi lagi, manakah yang menebarkan cinta kasih sebagaimana Islam sesungguhnya dan manakah yang terus menerus mengajarkan kebencian terhadap sesama umat manusia. 

Dari semua ini harapannya adalah dimulai dari rumah sendiri.. Komunikasi menjadi kunci paling utama agar anakku kelak bisa tumbuh menjadi manusia yang baik.

Menilik background aku dan suami, dimulai dari aku tumbuh dari seorang mama yang single parent. Aku dididik keras, penuh kedisiplinan, banyak hal yang dipaksakan mama terhadapku, dididik harus bisa menyenangkan hati mama tanpa mama mau tau apa sih yang bisa bikin aku senang? Barulah dewasa ini aku bisa komunikasi dengan mama, yang tadinya aku merasa hanya komunikasi “1 arah” saja. Memang tidak mudah menjadi orang tua berjuang sendiri, setelah dewasa aku baru menyadarinya.  Mungkin itu juga yang membuat mama mendidik aku dengan “awam” pengetahuan tentang parenting, yang beliau tahu hanya anak2 harus sopan dan tidak rewel. Hasilnya apa dengan pola didik mama seperti itu? Aku tumbuh menjadi pribadi yang ketakutan. Takut berbuat salah, takut mengambil keputusan, takut dengan banyak aktivitas fisik, takut dengan ini itu dan yang paling aku takutkan adalah sosok mama.. 


Mengenal keluarga BapakShai, jauh 180 derajat dibanding pola didik mama. BapakShai bersaudara dibiarkan menjadi diri mereka dengan karakter masing2 tanpa ada paksaan untuk menjadi “baik2” di depan orangtua mereka. Apa yang aku lihat dari pola didik mereka? BapakShai bersaudara bukannya takut sama orangtuanya, tapi hormat dan respect. Mereka tahu menempatkan diri kapan serius, kapan harus menyelesaikan tanggung jawab mereka, kapan harus bisa bersenang senang sebagai anak. 

Tapi apakah pola didik keluarga BapakShai sepenuhnya benar dan pola didik mama sepenuhnya salah? Ternyata masing2 didikan memiliki kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Karena terbiasa dengan kerasnya didikan mama dari kecil, begitu menyemplung di dunia pekerjaan yang bertemu dengan berbagai macam karakter figur dan menghadapi macam2 problematika dari luar maupun dalam kantor, membuat mental MumiShai terbentuk. MumiShai terbiasa untuk keluar dari comfort zone dan menghadapi orang2 yang nyebelin di kantor rasanya belum seberapa dibandingkan diomelin mama bak omelan mamanya Giant di Doraemon hahahaha.. 

Lain halnya dengan BapakShai bersaudara. Mereka terlalu nyaman dengan karakter mereka di rumah. Tidak mudah bagi BapakShai untuk bisa menghadapi beberapa jenis karakter orang2. Adaptasi menjadi sesuatu yang berat bagi BapakShai. 

Dari ke 2 pola didik tadi, aku kembali pada kunci utama, yaitu komunikasi. Aku kepengennya si bisa menjadi tengah2 antara didikan mama dan orangtua BapakShai, tegas namun tetap membuat Abang Shai nyaman bersama orangtuanya, dengan cara bicara apa saja yang dirasakan Abang Shai. Sehingga Abang Shai bisa respect kepada orangtuanya. Karena jika takut pada orangtua, dia tidak akan bisa menjadi dirinya senndiri, karena dibayangi ketakutan..


Bismillah semoga cita2ku bisa tercapai ya untuk menerapkan pola itu.

Shaidan sayangku, dunia ini memang semakin kejam. Mumi juga nggak tau sampai kapan bisa mendampingimu terus. Mumi cuma berharap, kamu bisa tumbuh dan berkembang menjadi anak yang soleh seperti doa2 Mumi setiap solat. Menjadi anak yang berguna, yang tahu menempatkan diri, yang tahu apa cita2 Shaidan sesungguhnya.. 

Kali ini bahasan MumiShai berat yah hihi but I guess.. this is love letter for Shaidan in a future 

Advertisements
My comment on what i see

Roseola Abang..

Haii setelah sharing tentang seneng2 balik lagi deh sharing ttg penyakit huhuhu.. it was my fault, bener2 bisa salahkan ke aku sebagai Ibunya yang susah banget jemur Abang Shai pagi2 sehingga Abang rentan banget ketularan sakit. Padahal jemur pagi itu bagus banget, banyak vitamin yang didapat. Jadi imunnya lebih terbentuk.

Hari Senin sekitar 3 minggu lalu, aku titipkan Abang di rumah mertua, beserta helper di rumah buat bantu2 Ibu mertua mengurus Abang. Aku kebetulan harus ke dokter gigi untuk tambal gigi dan ke blok-m square ada keperluan sama mamake. Tiba2 helper aku ngabarin kalo Abang demam, panasnya sampe 38 C. Jujur pas denger itu aku bete setengah mati. Baru juga sembuh dari batuk berkepanjangan sekarang kena lagi demam. Ngapain aja si di rumah mertua ampe demam gini? Siram2an, ujan2an apa gimana si?

Di dokter gigi pikiranku udah kalut, “Abang hamish daud lagi apa yah?”, hahaha ya kagaklah, aku mikirin Abang Shai yang lagi2 kena sakit. Dokter gigiku menanyakan kenapa ini liur keluar terus? Jadi menyulitkan pengerjaan penambalan gigi menurutnya, apa ada yang lagi aku pikirkan? Aku bilang aku lagi mikirin anakku..

Aha! Untung aku selalu sedia Tempra di tas Abang (macam iklan2 endorsan artis huehue) Aku udh minta tlg helper aku untuk kasih Tempra, alhamdulillah turun demamnya sedikit. Waktu aku jemput Abang dari rumah mertua, demamnya naik lagi. Malam harinya sampe sempet 39. Aku kasih Tempra turun lagi dikit. 

Besokannya aku bawa ke Dr. Hari Martono. Beliau bilang tenggorokannya merah, sepertinya baru tertular orang terdekat. Kupikir syapa yang lagi flu yah? Nggak ada kayaknya. Dokter cuma kasih antibiotik Fixacep kalo gk salah namanya dan racikan puyer. Beliau menyarankan kalau masih demam 3 hari cek darah aja, karena sekarang lagi musim Demam Berdarah (DB) dan ciri2nya macem2.

Akhirnya pas sampai rumah, Abang kembali demam. Seperti pada sakit terakhir, Abang jadi susah makan deh kasian, dikasih obat antibiotik kurang pengaruh juga, Tempra turunnya dikit2, sempet keluar juga deh ni air mata, kenapa si anakku yang imut2 ini terserang sakit terus? kasihan badannya melawan virus yang nggak tentu ini. 

Malam hari juga rewel, minta nenen tapi cuma buat di gigit2 pake giginya yang baru beberapa tumbuh, seperti menahan rasa sakit dari apa gitu. Akhirnya karena hari Kamis-nya libur (pastinya Dokter2 selain UGD tidak ada yang praktik),  maka kuputuskan esokan harinya yaitu hari Rabu datang lagi ke Dokter Hari. Ternyata dokter sudah booking test lab bila masih demam di hari Rabu. Memang hari Rabu masih demam, tapi pagi2 subuh aja, habis itu udh nggak demam lagi. Tapi tetep kuputuskan ke dokter deh, daripada kenapa2. 

Lalu Abang Shai di test darah, disuntik ambil darah kasiaan banget dehh huhu, sama kayak pas di uap, jejeritan minta ampun kasian 😦 dia udah pengen banget berontak tapi aku tahan dengan sekuat tenaga.

Kita nunggu hasil test darah 2 jam, Abang sempet pup dan tidur di nursury room. Saat pup karena aku buru2 gantiin diapersnya (maklum yak buibuk tempat terbatas, antrian yang pengen ganti juga banyak macam di ATM hahaha) aku nggak ngeh kalau dia itu pupnya berbentuk lebih cair dari yang biasanya. Sampai kena ke bajunya dan harus aku gantikan.

Setelah test darah selesai, hasilnya Alhamdulillah negatif DB. Tapi nggak ada tanda2 sakit lain. Aku sempet nanya apa ini roseolla? Dokter cuma bilang, “bisa jadi”

Hari itu berlalu juga. Alhamdulillah Abang nggak demam lagi. Tapi semakin sering pup cair atau mencret. Aku pikir karena obat antibiotiknya mungkin Abang nggak kuat. Sampai pagi2 jam 4 Abang bangunin aku sama bapaknya untuk minta digantiin diappers. Dia sih nggak nangis, ceria2 aja, tapi pupnya udah beleberan (maap kalo jijik yak) di sepreinya dia. Wah pagi2 kita bersih2 deh. Semenjak udah makan tesktur pup nya nggak kaya gini. 

Besokannya Alhamdulillah mencret berenti, tapi dateng lagi yang baru, yaitu bentol2 merah. Bentuknya ada yang bentol kecil2 ada yang melebar seperti ruam popok. Awalnya cuma di leher, lama2 menyebar ke perut dll. Aku tadinya udah males dan capek bawa Abang ke RS, karena aku lihat dia masih seger mukanya, trus juga masih mau makan dan mimi jadi buat apa sering2 ke rumah “sarang virus”? Aku mau tunggu sampai 2 hari apakah merah2nya bertambah banyak? Tapi desakan dari keluarga bak toa masjid, kenceng banget! jadi nggak enak kalo nggak diikutin huehue.. akhirnya aku bawa lagi ke dokter. Tapi kali ini ke  klinik Dr. Sanders. 

Dokter Sander bilang bener ini kena Roseolla atau dalam bahasa sehari harinya Tampek. Keluar merah2nya malah bagus karena menandakan akan sembuh. Aku hanya disarankan untuk memberikan lotion Caladine dan minum Lactobee bila masih ada diare. Menurut prediksi Dokter, keadaan Abang seperti ini sampai 3 hari.

Maka rentetan sakit Abang dari Senin lalu yaitu demam, mencret dan diakhiri dengan keluarnya bintik merah pada badan adalah ciri2 sakit Roseola. 

Apa si sebenernya Roseola itu? 

Roseola atau dalam istilah medis lainnya disebut roseola infantum, merupakan infeksi virus yang menyerang bayi atau anak-anak dengan gejala utama berupa demam dan ruam merah muda di kulit. Usia enam bulan hingga satu setengah tahun merupakan usia yang paling rentan terkena kondisi ini.  (menurut aladokter.com)

Roseola menular ke anak2 lain usia 6 bulan – 2 tahun. Setelah keluar dari ruangan Dokter Sander, kami disarankan segera masuk ke mobil oleh suster, supaya nggak menularkan ke yang lain. 

Mudah2an Abang selalu sehat yah.. Aamiin..

My comment on what i see

Join Sensory Class

Hai2, Alhamdulillah Abang udah sembuhan, udah ceria dan lahap makan lagi, horee!  Syuh Syuh pergi kau penyakit2 nakal, jangan deketin Abang dan keluarga lagi yah.

Kalau anak sakit, jadi inget waktu kita masih cilik yak, gimana repotnya orang tua kita kalo kita sakit. Sekarang ngerasain sendiri repot dan sedihnya kalo anak sakit.

Abang sakit gitu bikin tambah parno aku bawa Abang pergi2, takut ketularan si anu, si inu yang lagi flu, lagi demam, lagi panuan lah hahaha yakalee.. Tapi jadi tambah hati2 aja si.

Cuma 1 hal yang aku semangat dan beranikan diri bawa abang, yaitu ke sekolah para bayi cuilik. Dari dulu pengeeeenn pake banget bawa Abang ke sekolah bayi. Dulu udah nanya2 sama Rockstar Gym, udah dikejer2 terus buat trial, tapi jamnya gk sesuai sama jam bobok abang. Jadilah ke tunda2 terus mau trial. 

Kenapa aku pengen sekolahin Abang walaupun masih bayi, karena aku lihat energi Abang itu luar biasa besarnya. Tenaganya untuk seukuran bayi juga luar biasa. Aku jujur nggak kuat buat ngikutin pergerakannya Abang! Hahaha.. udah jompo bener! Aku ngerasa energi Abang ibarat gelas 2 liter diisi dengan air 10 liter! Kebayangkann “air” nya beleber kemana2 hahahaha.. Sayang banget kalo nggak disalurkan ke tempat yang memadai. Selain itu biar Abang bergaul dan nggak takut ketemu orang banyak.

Trus liat postingan temen di IGstory nya yang sharing baby girl-nya ikutan sensory class. Penasaran tingkat kecamatan dong yahhh, akhirnya nanya2 ternyata diadakan di Mika Daycare South Quarter TB Simatupang. 

Mirip2 Rumah Dandellion yang nggak selalu ada regular class, Mika Daycare juga cuma beberapa kali aja ada kelas untuk bayi. Untung masih kebagian kelas kemarin 4 Mei 2017 lalu. Dapetlah rejeki si Abang kebagian kelas Sensory Class untuk bayi 6 bulan – 16 bulan. 

Tapi sebelumnya, sensory class itu apa sih? Kalau yang aku liat di website2 luar dan dari penjelasan sang psikolog di Mika Daycare, Sensory class adalah kelas untuk meningkatkan saraf sensorik anak dari mengenalkan beberapa struktur, tekstur, suara, berbagai bentuk dan lain2. Lingkungan yang mendukung akan meningkatkan otak bayi dan intelektual kedepannya *azeeek berat bener yak bahasannya hahahaha* 

Suasana Mika Daycare gemesin banget. Walaupun letaknya di area gedung perkantoran, tapi suasana anak2nya tetap terasa. Ada outdoor gamesnya seperti trampolin, ayunan dan perosotan. Pencahayaannya pun juga bagus banget sinar matahari bisa masuk dengan hangatnya, jadi nggak seperti yang dibayangkan, kalo sekolah di gedung atau mall akan “babay” dengan matahari. 

Karena dasarnya tempat ini adalah Daycare (atau penitipan anak), jadi dibuat senyaman mungkin. Anak bisa merangkak jalan kesana kemari. Kita dateng pas kelas belum mulai 5 menit. Abang masih penyeseuaian tempat, tapi nggak lama si mungkin karena memang tempatnya yang bayi friendly banget. 

Setelah itu sang psikolog memulai kelas dengan menjelaskan tujuan dari sensory class ini, yaitu merangsang otak baby kita untuk selalu berkelakuan tenang. Diibarartkan seperti film kartun Winnie The Pooh, ada tokoh Eyore si kedelai yang lemot, ada juga tokoh Tigger yang terlalu cepat bergerak. Maka target sensory class adalah agar anak dapat seperti sosok Pooh yang tenang dan stabil.

Kelas diawali dengan bernyanyi, lalu memberikan mute2 untuk membuat gelang digunakan ke anak2 masing2 (gk tau juga si gunanya apa haha) Setelah itu tiap orang tua diberikan kain untuk di sematkan ke wajah anak2. Ada anak yang nangis terus, ada yang hanya terdiam dan Abang Shai tetep dong nggak mau diem. 

Setelahnya anak2 diberikan bergiliran untuk memegang semacam “ular-ularan” yang terdiri dari berbagai macam jenis kain dan warna. Disini anak akan merasakan sensasi berbeda dari tiap kain yang ada, seperti bludru, bahan lembut, berbulu dan lain sebagainya. Konon anak gejala autis takut pada tekstur kain tertentu, jadi kita sebagai orang tua harus mengenal lebih dalam anak kita dengan berbagai cara, salah satunya denga mengenalkan berbagai tekstur.

Lalu anak masuk ke dalam ruangan yang di setting seperti  “ruang disko” kalo aku nyebutnya gitu. Karena gelap dan hanya diterangi lampu semacam cahaya disko gitu yang redup2 warna warni. Di kasur yang jadi alasnya juga bisa nyala2 gitu deh, bukannya anaknya yang seneng malah aku yang norak hahaha keren amat nih bisa nyala2 gini. Tapi Abang Shai malah minta nenen wakwawww doi ketakutan dong. Yah mungkin kamu lebih cocok jadi anak santri yak daripada disko ria gini hahaha..

Terakhir di gelarlah bubble wrap menempel di lantai yang sudah diberikan tumpahan warna. Anak2 disuruh berjalan sesukanya untuk melewati bubble wrap tersebut. Abang sukaaa bangeeet! Merangkak dengan semangat deh! Ada beberapa anak yang takut menginjakan kakinya di bubble wrap, seperti keponakanku hihihi. 

Terakhir di sediakan 3 bak kolam yang berisi penuh 3 tekstur yang berbeda, yaitu ada tekstur kering (sedotan warna warni di potong kecil2  dan bola bola plastik) dan tekstur basah (kalo ini aku lupa nyebutnya apa, tapi semacam biji2 warna warni lembek gt kaya jelly bean yang ada airnya, maaf ya kalo deskripsinya nggak jelas haha) 

Abang paling suka yang tekstur kering, terutama mandi bola karena sudah familiar dia liat di rumah sehari hari. Awalnya ogah masuk ke tektur basah, tapi setelah aku baca mood Abang dulu nih ok apa nggak, baru aku “cemplungin” ke tekstur basah deh hihi dan dia happy banget nggak mau keluar dari situ.

Overall kelas ini menyenangkan sekali buat baby. Mungkin deskripsi ku seperti layaknya sekolah (abis ini gini, abis itu gitu) tapi sebenernya berjalan dengan smooth dan menyenangkan aja seperti bermain. Prinsip dasarnya adalah tidak boleh memaksa bayi untuk suka, kalau Ia sudah tidak nyaman, yaudah kita ikutin aja. Hal ini juga didukung sama sang Psikolog pendamping kelas yang mengatakan, “bila anak nangis dan tidak nyaman, maka pengenalan tekstur apapun nggak akan masuk untuk dia”

Hari ini Insha Allah Abang akan ikutan lagi, horee! 

My comment on what i see

nursing clothes

huiii, MumiShai udah lama yak gak crita2 soal perkembangan Abang Shai. Alhamdulillah Abang Shai udah masuk usia 10 bulan, nggak berasa 2 bulan lagi mau setaun, oemji boong si kalo gk berasa hahahaha, berasalah, banget! Apalagi dari hamil sampai Abang Shai lahir kan aktivitas kerja kantoran berenti total, jadilah berasa banget ya per detik nya membesarkan Abang Shai. 

Akhirnya Abang Shai memasuki fase GTM (gerakan tutup mulut) Mungkin antara dia baru mulai batuk jadi tenggorokannya kurang sip or karena akan ada gigi ke 4 yang numbuh. Sedih juga sih ngeliat dia yang biasanya Hap Hap aja kalo makan (kayak Muminya kalo dikasih duit Hap Hap aja hahahaha..) sekarang nutup mata sama mulutnya di monyong2in kalo disodorin makanan, kayak yang jijik gitu. Akhirnya maunya cuma minum sama nenen. 

Ngomongin soal nenen, ya namanya bocah lanang nenennya kuat banget sampe sekarang, nggak kenal tempat dan waktu deh. Belom lagi sekarang kalo nenen banyak gaya banget, sambil diri lah, nungging lah, joget kayang lah (gk denggg) haduhh super aktif deh bocah ini. Pernah beberapa kali di restoran Abang Shai gk mau pake nursing cover, maunya di goyang2in covernya, kan watalam baang, ini payudara momi kemenong2, selalu aku tutupin pake kepala anaknyah.

Tapi kalo nggak pake baju yang khusus untuk menyusui udah deh, nggak ngerti lagi, pasti kemana mana tu dari dada sampe PD, apalagi aku berhijab ria kan, nggak lucu dong pala ketutup badan ber “uwa uwa” kemana2 akibat Abang Shai yang susah pake nursing cover.. Jadilah aku kumpulin baju2 nursing.

Awalnya Ibu mertua yang beliin waktu hamil. Pas dipraktekin saat menyusui, maak enak banget yak pake baju khusus menyusui, karena area yang terbuka cuma ya bagian untuk menyusui, jadi walaupun nggak pake nursing cover tetep relatif aman deh.  Aku jadi langganan di beberapa merk nursing clothes dan cita2 pengen banget bikin sendiri, doain yaaaw

Berikut review nursing clothes versi mumishai : 

1. Baju Mamigaya


Yah ini sih udah sejuta umat yak bu ibuuk, yang nyusuin pasti udah nggak asing lagi denger brand ini. Selain murah, bahannya juga enak banget, adem dingin, pas lah buat emak2 nyusuin yang sering kepanasan. Baju Mamigaya folowers di IGnya udah buanyaak banget, sampe 50 K! Memang targetnya buat sehari2 ibu2 menyusui, jadi modelnya ya menurutku si kurang variatif, kebanyakan atasan bahan rayon dan ada juga yang bisa pasangan sama anaknya. Resellernya juga bejibun, di berbagai e-commerce tersedia deh. Aku suka dan hampir tiap hari pake koleksi mereka, karena emang enak banget bahannya buat sehari hari. 

2. Nyonya Nursing


Brand ini lebih digarap “serius” dari Mamigaya. Segmen pangsa pasarnya lebih jelas yaitu middle-Up (maklum yak mantan anak iklan harus ngerti bibit bebet bobot brand wkwkwk) catalog dan websitenya tertata rapih, dilihat dari model yang casual, hijab friendly, long dress sampe untuk acara formal semua lengkap di tata apik, nggak nyampur aduk. Karena mungkin namanya “Nyoya”, kesan ke”Ibu”an lebih terasa di lihat dari beberapa koleksi bajunya yang menggambarkan kedewasaan dan ditunjang sama model yang mengenakan koleksi mereka.

Aku beberapa kali beli disini sebelum tau Mamigaya (sampe sekarang si masih suka beli) Karena baju casualnya pun lebih banyak pilihan model dan bahannya juga enak2 seperti rayon, katun, spandex dan scub. Paling seneng kalo lagi diskon (namanya jg emak2 wkwkwk) bisa setengah harga deh dapet koleksi mereka dan worthed it si untuk harga kurang lebih Rp 119.000-Rp 300.000 total baju yang aku punya ada 6 baju dari koleksi Nyonya Nursing. Aku lagi nungguin next discountnya nihh
3. Emeno Nursing


Sama kayak Nyonya Nursing, Emeno juga termasuk middle Up segmen. Tapi kalo Emeno aku melihatnya lebih per “season” model2 bajunya. Jadi nggak sekali keluar langsung ngeluarin banyak koleksi. Aku baru pernah beli 2x si, karena jujur model2 bajunya terlalu sedikit yang hijab friendly. Favorit aku si model batiknya, nggak pasaran dan unik, ada bagian yang ngumpet harus dibuka dulu baru deh bisa nyusuin. Bahannya juga enak kok, adem nggak panas untuk acara2 kondangan yakaaan. Harga kisaran 200an.

4. Matroishka


Naah yang ini nih sekarang jadi favorit aku. Mereka hebat si menurutku membuat konsep dan target busui dengan memperhitungkan detail, dari segi ingin Ibu yang seperti apa yang kira2 akan menggunakan koleksi mereka sampai diaplikasikan pemilihan model/talent mereka pun beda dari yang lain, jauh dari kesan “emak2”, Matroishka mengesankan “be who you are”, walaupun sudah jadi Ibu, bukan berarti tidak bisa menjadi diri sendiri dan tetap aktif. 

Mereka menjunjung tinggi “Productives Moms”, jadi mereka hampir selalu berpartisipasi dalam acara Ibu2 yang produktif. Ditambah di IG mereka suka menampilkan sosok Ibu yang mewakili image mereka,seperti Ilma Rineta dan Krizia Alexa. Aku pernah dapet koleksi mereka sekali, terus dipake enak, nyaman dan stylish, bisa buat acara2 semi formal dan kece buat ootd (wkwkwkw penting) Akhirnya ketagihan produk2 mereka, selalu pengen tau breakthrough apalagi yang mereka buat. Senengnya lagi pernah menang foto kontes mereka hahahaha horeee!! Alhamdulillah selalu kedapetan koleksi mereka yang baru2, karena sold outnya super cepeeet. Jadi aku suka ke toko offlinenya di Moms and I Kemang. 

Sekian deh review2annya yaaah, semoga cita2ku punya clothing line sendiri tercapai yaak aaamiiinnnnn 

My comment on what i see

Baby and eat

Heloww, Alhamdulillah sekarang kandunganku udah masuk usia 30 weeks atau 7 bulan. Udah masuk trimester 3 hihi seneng banget, gerakan baby makin pinter makin aktif. Sehat2 terus yah nak.. aamiin2..

Pengen banget cepet2 ketemu baby, pengen liat mukanya mirip siapa.. mirip David Beckham apa Aliando gitu kan yak? Hahahaha.. Walaupun deg2an banget akan masuk ruang oprasi buat secar, tapi ditambah excited juga karena akan ketemu keturunan aku dan suami.

Kalo dipikirin awal2 hamil kemaren, bener2 hal ter-amazing buat aku. Kenapa? Karena ya hebat aja kekuasaan Allah yang bisa memberikan suatu hormon kepadaku sampe aku berubah total dalam hal selera makan, padahal sebelumnya makan apa aja hayuk deh (kecuali wortel dan bakso yak hehe) Giliran pas hamil awal2 hampir semuanya enek. Jadi tiap hari makanannya milih2, nggak mau maknan yang sama kaya kemaren2. Trus ditambah enek dan pusing berlebihan, sampe minum air putih aja rasa di lidah tu paiiitttt banget. Aneh ya padahal air putih mah rasanya gitu2 aja dan semua merk harusnya nggak jauh beda. Cuma merk Pure Life Nestle yang lumayan nggak bikin enek. Buah-buahan juga jadi musuh utamaku. Fruits it should be making your body fresh, but not this time. Aku malah tambah uenek makan buah. Untung sayuran nggak enek.

Waktu hamil memasuki bulan ke 3, muntah paling jadi hal tak terhindarkan deh. Di sajadah muntah, abis nonton star wars muntah di KemVil (mungkin karena mabok abis nonton perang-perangan dengan suara zuing2 kali yah hahaha yakalii :p) trus terakhir muntah di Plaza Senayan. Nggak elit banget yak muntah-muntah di mall, macam masuk angin nggak pernah kena AC mall yang super dingin hahahaha.. Alhamdulillah banget baby nya nggak kekurangan gizi di dalem perut. Walaupun emaknya katro gini muntah2 nggak tau tempat, tapi baby nya kaya bodo amat gitu, “yang penting gue makan deh yee”

Waktu masuk ke bulan 4, aku kaya pengen teriak ala Syahrini di rumput sambil guling-gulingan, “I feel freee”

Enek-enek tiba-tiba ilang. Makanan apa aja silahkan masuk ke perut. Muntah juga mulai jaun berkurang. Rasa masuk angin tiap hari udah ilang deh. Maunya makan pedes trus sama jadi suka banget sama rasa Choco2 gitu.

Tapi kalau makan manis kebanyakan muntah juga si.. kejadiannya udah 2x di trimester 3 ini, sampe rasanya kepala juga muter2 gitu. Untung nggak tiap hari, fiuuh..

Dua minggu lalu abis periksa baby dengan dokter kesayangan nan baik hati, Dr. Amru Harahap, aku dan suami mau nonton Batman vs Superman. Sambil nunggu film mulai, kita makam dulu di Momi and Toy’s Creperie. Karena lagi keranjingan makan coklat, jadilah pengen makan pastry gitu. Aku pesen Toblerone and Nuttela Crepes. Ternyata rasanya enyiaaaaaakkkkkk banget. Ampe tepuk tangan dong sambil makan, hahaaha udah kaya nonton konser yak. Soalnya buat aku crepes yang perfect agak jarang, either kemanisan banget atau flat aja gitu rasanya. Tapi kalo ini, beuhhh paduannya kloooopp cucok banget. Aku nggak tau filling di dalem crepesnya itu yang Nutela apa yang Toblerone, tapi lumer banget di mulut. Trus ditambah ada saos coklatnya lagi, ya salah satu dari Toblerone dan Nuttela juga. Untuk penetral rasa manis, ada toping keju lembut diatasnya ditambah kacang almomd. Roti crepes nya itu sendiri juga jadi juara, karena adonannya pas, nggak tebel nggak tipis banget. Perfecto deh!

image

Kalo suami pesennya salah satu menu finger food, yaitu Garlic Herbs, semacam ayam mirip2 chicken skin gitu. I tought it tasted would not really good or just standard tasted, since they’re selling crepes, but turns out it taste so gooooodddddd! Cruncy2 kulitnyaaa super yumm.. renyah dan herbs nya juga berasa. Wah puas deh makan disini, baby seneng, emak bapake juga seneng.

image

Continue reading

My comment on what i see

Treatment Chiropraktic menurutku..

Hi, akhirnya aku nulis lagi setelah sekian lama mengumpulkan niat dan semangat buat nulis, secara banyakan malesnya daripada pengennya hahaha..

Beberapa minggu terakhir ini, publik dihebohkan dengan berita kematian wanita cantik Siska Alya yang diduga akibat malpraktik pengobatan Chiropractic. Sebelum membahas lebih lanjut, aku ingin mengucapkan turut berbela sungkawa sedalam – dalamnya atas kejadian ini. Semoga arwah beliau diterima disisiNya dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, aamiin..

Saat berita ini keluar, teman – teman yang tahu aku berobat ke Chiropractic langsung WhatssApp ke aku, guna memberikan warning berhati – hati berobat dengan metode Chiropractic. Aku terus terang kaget dan shock dengan berita tersebut. Karena selama ini tidak ada terdengar keluhan sama sekali tentang Chiropractic.

Sedikit bercerita, aku sudah 8 tahun kurang lebih mengikuti treatment Chiropractic. Awalnya diajakin temen yang juga pasien Chiropractic dengan keluhan yang sama denganku yaitu Skoliosis. Ia mengaku merasa lebih baik dengan pengobatan tersebut. Lalu aku disarankan ke Chiropractic Indonesia yang terletak di Dharmawangsa.

images

Saat aku kesana, tampak meyakinkan. Banyak alat – alat latihan untuk penyembuhan berbagai masalah tulang dipandu dengan therapist dari dalam negeri. Begitu ketemu dengan Chiropraktor-nya, seperti sudah dikasih tau oleh temanku sebelumnya bahwa sang Chiropractor atau Dokternya adalah orang bule, kalo nggak salah orang Amerika atau Aussie gitu?

Sambutannya ramah sekali, penuh humor dan tentu ya nggak fasih berbahasa Indonesia. Ia menyarankan untuk aku roentgen dulu di tempat lain (karena tempat tersebut tidak menyediakan alat roentgen) Setelah melihat hasil roentgen ku, baru dia berikan beberapa treatment, latihan yang bisa dikerjakan di rumah dan di klinik. Aku dipijet, di “kretek-krektek”in leher ke bawah, terutama punggung. Rasanya si enak banget, lega gitu kan pegel – pegel ilang.

Aku ikutin semua saran dia untuk pakai tas yang ransel saja agar tulang lebih seimbang dan ditambah menggunakan sol sepatu khusus yang dibikin oleh Body Clinic (berbeda clinic dengan yang di Dharmawangsa, sama – sama orang bule tapi yang ini lebih khusus ke masalah kaki, sekarang di tutup karena nggak ada izinnya juga, jeng jenggg) karena ternyata aku menderita flat foot juga, jadi pengaruh ke tulang belakang. Di saat anak – anak kampus yang waktu itu girly banget, aku cuma bisa gaya kaya Si Bolang, dengan tas ransel dan sepatu kets.

Ternyata membuahkan hasil, keadaan tulang aku membaik saat itu. Chiropraktor aku pindah klinik ke tempat lain, aku ikutin. Kemanapun dia pindah, aku selalu ikut karena sudah merasa cocok. Bahkan aku sempet diliput oleh salah satu TV nasional swasta tentang pengobatan Chiropractic *cieh bangga masuk tipi*

Satu hari aku di telfon oleh asisten dokter tersebut, Ia mengatakan bahwa Dokter itu kabur ke negaranya dengan meninggalkan hutang di Jakarta. Ternyataaaa, doi kaga punya yang namanya KITAS (Kartu Izin Tinggal Terbatas) dimana biasanya orang bule kalo kerja di Indonesia, kudu wajib punya kartu ini.

Panik dong, pindah kemana nih? Sempet beberapa bulan nggak berobat Chiro. Sempet juga nyoba Chiropractic Indonesia di pusatnya yaitu di kantor BEI (Bursa Efek Indonesia) Dokternya lupa siapa tapi aseli beda banget dan sakit, disuruh batuk-batuk ampe keras buat memperkuat otot perut tapi sambil diteken gitu perutnya. Akhirnya nggak mau lagi ke Chiro itu.

Tapi nggak kapok dengan pengobatan Chiropractic. Lupa gimana ceritanya, akhirnya aku berobat ke Body Clinic yang waktu itu lagi baru buka praktek Chiropractic. Nyobain sekali cocok. Akhirnya berobat terus, tapi nggak serajin waktu sama dokter yang pertama kali karena kesibukan kuliah tingkat akhir. Trus setelah beberapa tahun berobat, again, ditinggalin lagi sama dokternya  karena dia nggak dapet2 KITAS dan dia izin pergi balik ke negaranya, di Spanyol or manaa gitu lupa deh. Trus pindah ke Therapist perempuan di tempat yang sama. Cocok lagi, dan beberapa bulan dia juga ditawarin kerja di Perancis, jadi dia balik deh ke negaranya. Hufftt..

Setelah itu aku mutusin balik lagi ke tempat asal, yaitu Chiropractic Indonesia di Dharmawangsa. Ditawarin resepsionisnya berobat dengan Dr. Neil (sampe sekarang masih sama dia) ya Alhamdulillah cocok, tapi pertanyaan pertama yang aku lontarkan sama dia adalah “lo nggak bakal kemana – mana kan?” dia ketawa dan bilang “nooo” fiuhh lega deh rasa hati, apalagi sambil liat mukanya yang ganteng kan.. hahahaha 😛

Selama beberapa tahun aku berobat di Chiropractic, Alhamdulilah banget nggak pernah ngalamin efek yang aneh – aneh. Semua yang ditawarkan masih masuk di akalku, cuma datang 3x seminggu dan itupun sekali sehari. Trus metode latihan di rumah juga masih bisa dipahami. Yang paling aku suka adalah, Chiropractic tidak pernah memberikan obat atau bedah apapun. Jika pengobatan yang dijalani dari mereka merasa kurang ada hasil karena mungkin pasien sudah terlalu parah, maka mereka menyarankan berobat ke dokter ortopedi. Kekurangannya seperti layaknya pijet, pegelnya ilang sesaat, dan bisa datang lagi beberapa jam kemudian.

Walau hamil, aku tetap berobat di Chiropractic, paling nggak seminggu sekali. Aku berteman juga dengan salah satu pasien Chiro yang sudah memiliki 2 anak dan selama hamil beliau rutin menjalankan Chiropractic. Alhamdulillah kandungannya baik – baik saja.

Aku sempat cerita tentang ucapan dokter ortopedi yang mengatakan Chiropractic tidak akademisi (blogs sebelumnya), Dr. Neil langsung protes “kita sekolah sama seperti dokter, belajar bedah juga, tidak mudah di Amerika lulus menjadi Chiropractor, gelar yang diberikan-pun sebagai Dokter”, jawaban dia cukup menenangkan. Ditambah di Cliniknya juga terpampang (kalo nggak salah, agak lupa apa aja, banyak sih!) izin praktek, master- master yang diraih Dr. Neil, dan sebagainya. Intinya si udah ada izin dan memang lulusan Chiropractic, makannya aku percaya berobat disitu.

Namun sekarang, sepertinya izinnya dicabut sementara menunggu keputusan DepKes, padahal Chiropractic Indonesia sudah mengikuti prosedur yang ada setahuku dan Dr. Neil juga sudah punya KITAS. Aku jadi sedih tidak bisa berobat dulu sampai waktu yang belum tahu kapan 😦

Setahuku, Chiropractic Indonesia adalah pengobatan Chiropractic pertama yang masuk di Indonesia. Kalau sekarang ini kan tiba – tiba jadi menjamur, entah bagaimana. Menurutku mau dimanapun berobatnya, kita sebagai pasien wajib kritis dengan izin clinic, rumah sakit atau apapun itu (terutama yang tenaga medisnya orang asing) Biasanya terpampang di dinding klinik izin dsb. Sebelum berobat, kita juga sebaiknya cari tahu dokter yang bagus yang mana, banyak tanya dengan kerabat dan cari tahu di internet, jangan main percaya saja. Aku juga bingung dengan masalah KITAS, bagaimana bisa orang bisa kerja selama itu tanpa ada izin? Jadi passportnya izinnya liburan gitu? Dan apakah segitu susahnya mengurus izin kerja disini?

Semoga kasus kematian karena malpraktik tidak akan terulang lagi dimanapun, aamiin, dan semoga hukum medis lebih ditegakan lagi.

Sedikit tambahan info, selama aku hamil, aku menggunakan semacam belt yang di rekomendasikan oleh dokter ortopedi, yaitu “LoombaMum” dari Thuanse, gunanya tak hanya sebagai penyanggah perut, tapi juga penahan punggung agar tidak tambah miring.Lebih jelasnya bisa lihat di http://www.thuasne.com/innovation-products/solutions/

loomba mum2

loomba mum

Ciaoo bellaaaa..

 

 

My comment on what i see

Divergent Movie, no more humanity..

Beberapa minggu lalu, aku sempet diajak nonton film, berjudul “Divergent”. 

tumblr_mm2a6m7Wtt1r221mfo1_1280

Film ini cukup banyak menyita perhatian penonton, karena novelnya juga cukup diminati pembaca young generation, nggak heran kalau kalau sambutan untuk film ini juga nggak kalah sama novelnya. Divergent sering juga dikaitkan dengan film “The Hunger Games”, yang sama – sama diangkat dari novel dan ber-genre action teenager. Karena aku belom pernah nonton The Hunger Games (so lame gak sih gue? hahaha) jadi aku belom bisa compare which better which not..

Ok, back to the movie story, bercerita tentang dunia futuristik Dystopia, dimana manusia nggak boleh punya sifat humanity (berontak, penyabar, pintar, jujur, dll ) dalam 1 diri. Tapi dibagi menjadi beberapa fraksi, yaitu :  Abnegation (fraksi yang paling pasrah dan saling mengasihi), Candor (fraksi yang selalu mengutamakan kejujuran), Amity (mengutamakan perdamaian), Erudite (pemimpin semua fraksi yang mengutamakan intelegensi), dan Dauntless (fraksi pemberani yang hidup paling keras ala militer)

divergent-tribes

 

Saat usia 16 tahun, semua anak wajib mengikuti test “ketakutan”, dan dari test tersebut dapat terlihat pribadi anak tersebut cenderung ke fraksi apa. Mereka harus memilih fraksinya sendiri, biasanya berdasarkan hasil test tersebut. Bahkan tak banyak dari mereka yang terpisah dari keluarganya karena berbeda fraksi. “Fraksi diatas keluarga”, maka jika sudah masuk ke salah satu Fraksi tersebut, tidak akan bisa kembali ke fraksi semula seumur hidup! Hmm ngeri yee..

Beatrice Prior/Tris (Shailene Woodley), salah satu warga Fraksi Abnegation terdeteksi memiliki “kelainan” atau “divergent” setelah mengikuti test ini. Ia memiliki semua sifat semua fraksi. Pada akhirnya, Ia memilih Fraksi Dauntless dan bertemu dengan seniornya yang kece berat yaitu Four/Tobias (Theo James) yang juga sama – sama memiliki “kelainan”

 

images (1)

Awalnya Tris sangat berat dalam menjalani training di fraksi Dauntless. Disini segala olahraga bentuk fisik dan pikiran akan dikuras habis demi bisa menjadi bagian dari Dauntless. Benar – benar dibutuhkan keberanian yang keras. Paras halus Tris dan asalnya dari fraksi Abnegation yang terkenal “Selfless and Stiff atau kaku” ini, selalu disepelekan oleh ketua senior Dauntless maupun beberapa temannya. Semuanya meragukan Tris bisa bergabung di Dauntless. Namun dengan tekadnya yang kuat serta bantuan Four, akhirnya Tris dapat membuktikan ke semua bahwa dia layak ada di Dauntless.

Divergent_-_Final_Trailer

Menjadi Divergent, haram hukumnya di dunia mereka. Karena rasa kemanusiaan-lah yang disalahkan atas terjadinya perang antar sesama. Maka cerita semakin menarik saat Tris dan Four saling menyelamatkan diri dari fraksi Erudite yang akan membunuh mereka. Pemimpin semua fraksi adalah Jeanine dari Erudite, diperankan sangat baik sekali oleh Kate Winslet. Belum pernah sebelumnya melihat Kate berperan sebagai antagonis, and I think she nailed it!

Film besutan sutradara Neil Burger ini, membuat kita sebagai penonton ikut merasakan ketegangan saat Tris di training oleh tim Dauntless, dan ikut merasakan gimana pengen berontaknya kalo jadi Tris dipaksa harus bersikap sebagai Dauntless seutuhnya dan fraksi kelahirannya Abnegation diserang abis2an.

Dari film ini dapat kita petik, bahwa it’s ok for being Divergent. Dan  gimana susahnya mencari jati diri diantara kumpulan fraksi. Persahabatan dan keluarga juga diselipkan dengan pesan menarik di film ini, bahwa how hard it is, keluarga dan sahabat yang sebenarnya akan selalu membantu kita.

Hmm kalo aja dunia mereka ini ada di dunia nyata, kira-kira fraksi terbanyak di Indonesia bakalan apa yah? Kayaknya yang paling sedikit fraksi Amity deh (Peacefull), secara di Indonesia utamanya Jakarta dikit-dikit ribut bukan? Hahahaha just tought :p
Perjuangan para Divergent dalam mempertahkan diri nggak selesai di film ini. Sesuai dengan novelnya karangan Veronica Roth, seharusnya film ini dibuat sequelnya juga. Wah seru banget deh. Can’t wait for another journey!