Moms dairy

Playin arround di The Lab Future Park

Hai2, saat libur lebaran kemarin, aku memang udah punya rencana nggak mau ninggalin jekarda tercinta, karena saat lebaran adalah saat paling da best yo ma men (lah jadi ngerap) untuk stay di Jakarta. Kenapa? karena pastinya sepi. Jarak tempuh kemana2 even ke pusatnya Jakarta yang biasanya padet merayap jadi terasa dekat banget, bak deket di hati. Oh seandainya yah perekonomian merata dengan cepat, pasti orang2 daerah akan lebih milih kerja di daerahnya masing2, nggak sumpek di 1 kota Jakarta aja. Jadi kita yang tinggal di Jakarta bisa ngerasain aslinya kota ini yang tanpa kemacetan deh haha ngarep boleh yaaa..

Trus liat foto2 Mamud2 (Mama2 muda) bersliweran di sosmed2 ternama (hazek), pada ajakin anaknya ke Plaza Indonesia. Rupanya ada kaya layar warna warni gemes gitu deh di ruangan gelap2 ala2 disko hahaha apaan si deskripsinya nggak oks banget 😛 Namanya The Lab Future Park Exbition, yang ternyata hadir dari Juni – Oktober 2017 ini. 

Apa si TeamLab Future Park ini? Kalau aku si nangkepnya ini sebagai pengabungan antara seni dan teknologi, menggambarkan suatu saat taman di era modern nantinya bisa seperti ini nih. Tapi sedih juga sih kalo tamannya jadi kayak gitu, soalnya nggak ada rumput, pohon, udara yang segar, hiks.. 

Kalau dalansir dari sindonews.com : 

TeamLab Future Park merupakan sebuah art exhibition dan future park yang memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk berinteraksi dengan teknologi tinggi dan menciptakan karya seni melalui pengalaman yang mengesankan. Area ini juga memperkenalkan sebuah eksibisi seni berteknologi modern dan karya Co-Creation (collaborative creation).
Dengan luas 700sqm, teamLab Future Park terdiri dari area interaktif dan digital playground seperti art exhibition, art instalation, digital dan eksplorasi kreatifitas. Seperti halnya Sketch Aquarium, Sketch Town, Sketch Town Papercraft, Connecting! Block Town, Light Ball Orchestra, Hopscotch for Geniuses, dan Story of the Time when Gods were Everywhere. 

Menarik banget sebenernya deh! Bener2 canggih, kita bisa melukiskan gambar ikan seperti di area “Sketch Aquarium” dan gambar tersebut akan muncul di layar besar dan bergerak2 seolah olah menjadi ikan seperti di layaknya aquarium. Pantesan ya aku bingung kenapa si banyak mesin printer dan petugas yang siap siaga di dekat mesin2 tersebut? Ternyata untuk mengoprasikan gambar tersebut bisa terhubung ke dalam layar besar tadi.

Selain itu yang keren juga, terdapat sebuah meja besaaaarr banget, diatasnya ada seperti gambar digital proyeksi jalanan kota dan terdapat balok rumah dan (apa ya satu lagi? lupa) di area “Connecting! Block Town” Jadi ternyata meja yang besar tadi, bila balok2 kita pindah2kan dan kita susun, akan merubah2 susunan jalanannya, sesuai dengan balok yang kita letakan. Kerennya lagi, gambar di meja tadi terhubung dengan layar besar yang menempel di dinding seperti aquarium tadi. Sisanya si semua keren2 juga, harapan aku abang enjoy sama gambar2 canggih ini, or at least dorong2 bola warna warni lah. Tapi kenyataannya, doi malah pengen lari2an aja hahaha, malah takut sama bola warna warninya. 

Durasi pengunjung untuk menikmati exbition ini adalah 2 jam. Tapi kayaknya aku cm setengah jam deh karena harus kejer2an sama abang di tengah kegelapan hahahaha.. 

Selain hal2 keren tadi yang aku sampaikan, mungkin ada beberapa fact (cie apee fact), ada beberapa info lain deh maksudnya mengenai The Lab ini :

  1. Kalau anak usia dibawah 2 taun nggak kena charge, jadi yang bayar orangtuanya aja. Kita ditanyain punya kartu member Mothercare atau apa gitu lupa. Trus karena aku ada membernya Mothercare jadi itu yang aku kasihkan ke petugasnya, mungkin bisa dapet diskon, aku nggak nanya (tetoot) Harga sekitar 200an deh weekend untuk 2 orang tua.
  2. Nggak bisa dateng kapan aja, ada jam2nya. Jadi kita harus nunggu kalo belom dibuka
  3. Ternyata gk di exactly Plaza Indonesia, tapi di EX nya. Kita bisa tetep lewat Plz Indo si, tapi harus melalui lift yang berbeda kalo dari basement. 
  4. Stroler gak boleh dibawa masuk, jadi dititipin.
  5. Petugas2 waktu hari itu kayaknya agak2 linglung dan butuh aqua hahaha. Jadi kita nunggu masuk yang jam 12.00, liat orang ada yang masuk sebelum jam 12.00, akhirnya aku buka pintunya, kata sang petugas, “belom jam 12.00 bu, ini masih 12.00 kurang 5 menit” trus dia clingak clinguk tanya temen2 petugasnya “boleh masuk jam 12.00 teng apa kurang 5 menit boleh masuk si?” temen2nya kayak saling lempar2an jawaban, akhirnya kita boleh masuk nih. Tapi pas bawa stroler langsung di cegat dibilang nggak boleh bawa masuk dan ditanya, “Ibu tadi dikasih nomer penitipan stroler nggak?”, aku jawab, “nggak mas” yaudh bingung2 lagi deh tuh, trus petugas tadi bilang, “Bu strolernya kita taro sini (depan pintu keluar) ya, nanti inget2 aja ya sama mba mba (temen2 petugasnya yang mukanya bingung2 juga macam bilang, “kenapa gueee ya yg disuruh jagain?”) ini yang akan jagain”.. Hmm oke dehh kakak2 petugas 

Intinya si exbition ini menggambarkan bahwa the future is in our hand now. Bener2 secanggih itu loh, dari secarik kertas bisa menghubungkan ke layar dalam hitungan detik, juga dengan menginjakan kaki di layar yang penuh dengan warna, tiba2 ada cetakan kaki kita berupa gambar cipratan air.

Disini juga ajang melatih kreativitas anak untuk berkarya, berimajenasi di era digital ini. Tapi buat anak usia Abang Shaidan yg masih dibawah 2 taun, I don’t thing this his place deh. Ibarat cabe2 sevel dibawa ke pacific place they wouldn’t enjoy it (kenapa ibaratnya cabe2an yak hahaha dasar emak2 cabe)

Setelah keluar dari The Lab ini, kita ke Plaza Indonesia lantai 3. Disini si lebih seru banget, tapi ntar aja yak critanya, MumiShai ngantuk belat hahahaha.. 

Bubayyy 

Moms dairy

Abang Turning 1 and sensory class 2

Haii!! ii nggak terasa yah cepet banget Shaidan masuk usia 1 tahun! Perasaan baru aja curhat tentang proses melahirkan, sulitnya awal2 nyusuin daan drama2 lainnyah! Ee sekarang nggak taunya bocahnya udah bisa dipekernalkan umurnya dengan sebutan … tahun (yang biasanya masih .. bulan) 

Rollercoaster selama setahun kemarin memang bikin Mumishai dan Bapakshai belajar buanyaaak banget mengenai anak. Apalagi setahun kemarin Abang lumayan sering sakit kan seperti posting2an aku sebelumnya, jadilah kita lumayan protected buat nggak bawa Abang sering2 ke tempat umum macam mol gitu. Ke kawinan yang malem2 pun kita belum beranikan diri buat ajak Abang. 

Tapi hasilnya dari yang kita alamin setelah itu, Abang Shai jadi penakut sama benda2 tertentu, jadi kagetan juga karena lebih sering di rumah yang suasananya cukup hening dibanding suara2 di luar rumah. Aku sebenernya agak deg2an juga, takut pengaruh ke tumbuh kembangnya kalau Abang aku biarkan selalu takut sama semua hal. Takut boleh, tapi sama Allah aja yak nak, yang lain harus berani! apalagi ama cewek Bang, hahaha malu ah kalo takut2 depan cewek :p 

Akhirnya aku cobain ikutin Abang lagi ke sensory class yang ke 2 di Milka Daycare juga. Untuk kelas sensory yang ke 2 ini, lebih melatih anak melewati beberapa “rintangan” yang di setting unyu2 hihu.

Dia si sebenernya seneng2 aja awalnya, apalagi kelas warming up nya adalah memperlihatkan cahaya2 lampu ala2 disko di ruangan gelap dengan gelombang buble2 ditiupkan di udara. Karena di kelas yang sebelumnya pernah juga kayak gt, jadi dia agak familiar and he was so excited! Nggak takut2 sama sekali. Padahal peserta kelas kali ini lebih banyak dari kelas yang pertama. 

Tapi  pada saat mengikuti tahap ke 2 dimana sebenernya ini adalah main games yang melatih sensor anak2, zonk berat! Malah takut total zzz.. Mungkin karena waktunya samaan dengan jam bobonya juga. Selain itu, Shai takut banget sama gambar2 yang memperlihatkan mata besar, di TV aja kalau ada tampilan yang memperlihatkan animasi mata besar, gesture badan Shai langsung minta peluk dan gendong. Jadilah dia bete diawal permainan, karena awalnya dia harus “menceburkan” kakinya ke dalam kolam buatan dimana kolam tersebut terdapat gambar wajah hewan panda dengan mata hitam yang besar. Uwaa teriak2 nangis deh dari situ.

Masuk ke terowongan buatanpun dia ogah beraaat! Malah nangis2, kalah bang sama bocah wedok pada berani2 pisann hahaha! Setelah permainan masuk ke terowongan, seharusnya menginjakan kaki di keset bulu dan mengambil mainan di keranjang yang sudah dipenuhi tumpukan2 kertas yang digunting kecil2. Tujuannya adalah agar anak dapat mencari mainan yang tersembunyi dari tumpukan kertas2 kecil. Ee Abang tetep nggak mau nyentuh! Baik keset maupun kertas2nya emoh jauh2 deh, yang disentuh cuma mainannya.

Permainan terakhir yaitu melukis pakai cat air yang aman untuk bayi dan anak2. Haduh boro2 deh mau “ngelukis ala2”, tangannya aku tempelkan ke cat air aja udah jerit2 bocahnya hahaha.. Sedikit2 Abang mau pegang kuasnya dan langsung aku tempelkan kuasnya ke kertas karton yang sudah disediakan. Uwaa berontak badannya dan nangis2 karena nggak mau diarahin sendiri. Walhasil aku dan Abang Shai super cemong bekas cat air karena dia berontak terus hahaha. Tapi karena catnya aman banget buat bayi, dibilas pakai tissue basah pun hilang.

Aku merasa semua rentetan permainan bagi dia kayak masuk ke dalam rumah hantu kali yah!? Ngeriii! Pengen cepet2 keluar! Kayak di kejer2 utang! hahahaha itu mah Mumishai :p Udahlah cm 1 hal yg bisa bikin dia diem, nenen! Akhirnya aku kasih mimi aja di ruang nursury. Disitu aku ajak ngobrol Abang Shai, nanyain kenapa si dia kok nggak terlihat happy sama sekali dengan semua permainan yang ada? “Abang yang baik ya sama temen2nya, sama org2 di luar yang udah nunggu Abang main..”

Terakhir ditutup dengan memindahkan water bean (kalo nggak salah namanya itu ya, yaitu kumpulan semacam biji2an warna warni yang berisi air – sama seperti kelas pertama), ke dalam wadah kosong. Karena Abang Shai udah pernah familiar dengan ini, jadi dia happy lagi. Seneng banget main basah2an. 

Lalu kelas selesai juga dengan susah payah, fiuuh.. Aku dan BapakShai sempet minum ke starbucks dulu di deket Milka daycare. Aku lihat mata Abang Shai udah tinggal 5 watt hahaha.. Ternyata dia rewel ampun2an memang karena ngantuk dan liat gambar mata. 

Pelajaran baru lagi yang aku dapat dari Abang Shai adalah :  kita as a parent nggak akan pernah bisa maksain mood anak. Walau dia masih kecil baru memasuki usia 1 tahun, dia tetap adalah seorang manusia juga yang punya beberapa perasaan nggak enak yang hanya bisa dia ungkapin dengan nangis. Orangtua bener2 cuma bisa mengarahkan anak. Responnya baik atau nggak dikembalikan lagi ke anaknya 🙂 

Moms dairy

Batpil Abang Shai

batuk berdahak bayi, demam bayiHai2 Abang Shai 3 minggu lalu terserang batuk berdahak dan flu juga (sedih akhirnya sharing tentang sakit lagi huhu)

Awalnya dia nggak mau makan, yang biasanya lahap sekarang babay deh liat makanan. Aku pikir dia bosen, ternyata sulit nelen karna lagi sakit tenggorokannya. Minggu malem tiba2 demam menghampiri badan abang, “tok, tok, tok, demam mo masuk yah” hahaha gt deh.. 

Agak panik juga si karena udah lama abang nggak demam gini, pas di cek 36,9 C, udah mau 37 dikit lagi. Sebenernya si masih itungan sumeng, tapi jadinya rewel dan tiba2 dahak terdengar dari mulut kecilnya. 

Aku dan suami bawa ke Dr. Sander karena kita cari yang terdekat dan yang ada setiap hari. Dr. Sander bilang harus di uap dan dahaknya harus dimuntahkan atau keluar lewat pup. Paling nggak sampai hari Kamis malam (dari Senin) keadaan Abang akan seperti ini menurut Dr. Sander.

Abang di uap dengan Suster Lusi yang berbadan tinggi besar untuk seukuran seorang suster. Abang dipangku suster tsb seperti melihat Abang sebagai Marsha dan Suster Lusi sebagai (and the) Bear hahaha maapkan acu suster baik hati, :p 

Suster Lusi dengan sabar mangku Abang yang berontak luar biasa mendapat pengalaman pertama kali di uap. Nangis2 kejar sampe badannya goyang sana sini (bukan goyang dombret ya wkwkwk) Jujur air mata udah diujung banget mau keluar juga karna super gk tega deh liatnya. Tapi harus cari akal supaya abang teralihkan nggak jerit2 kayak gitu. Setelah selesai di uap, Suster Lusi menawarkan kalau mau uap lagi, Suster Lusi bisa datang ke rumah pasien. Aku pikir boleh juga nih, secara aku nggak punya juga kan alat nebulizer.

Pulang dari RS malemnya panas lagi, aku kasih Tempra sesuai anjuran Dr. Sander kalau panas melebihi 37,8. Akhirnya besoknya turun demamnya. Mata masih kuyu banget, makan belum mau, aku akhirnya panggil Suster Lusi ke rumah. Untungnya beliau bisa dateng. Di uap di rumah Abang jerit2 lagi, nggak tega deh. Tapi abis itu dia tenang dan demam sumengnya turun. Dia jadi ceria lagi dan sempet mau makan. Tapii malamnya kembali demam lagi sampe 38an 😦

Rasanya dunia kayak kebalik deh. Aku capek karena abang rewel, mau di nenenin malah di dorong2 badanku, tapi di sisi lain kasian banget sama badannya yang lagi perang melawan virus flu..

Besokannya Suster dateng lagi, kejadian yang sama berulang lagi kaya De Javu aja, abis uap seneng – malem demam lg – besok paginya gk mau makan. Hari kamis yang ditargetkan untuk sembuh sama Dr. Sander udah terlewatkan, hari Jumat Paskah suster datang lagi, suster juga kaget kok masih demam aja Abang Shai? Obat2 yang Dr. Sander kasih menurutku belum terlalu canggih, masih taraf kaya Panadolnya orang dewasa deh. Ternyata Abang belum dikasih puyer. 

Malamnya Abang muntah buanyaaak banget sampe megap-megap gt, ada kali yah 15 menit gk berenti2 batuk dan muntah. Aku panik si karena takut pernafasannya terganggu karena gk tau cara berentiinnya gimana. Akhirnya kita bawa ke UGD Kemang Medical Care, nggak taunya dia bobo di jalan, sampe sana juga tetep bobok. Tapi demamnya turun Alhamdulillah, cuma batuk dahaknya masih ada. 

Aku putuskan Sabtu pindah dokter ke Dr. Hari Martono di RSPI, seorang Dr. senior dari suamiku kecil dokternya beliau ini. Pas di check, tenggorokan Abang merah banget. Trus Abang harus menjalani fisio juga, karena uap aja gk cukup. Uap juga harus dilakukan 2x sehari. Jadilah kita beli alat uap sendiri dan bolak balik fisio 3x. Obat yang diberikan juga lumayan banyak si, tapi aku nggak semuanya kasih ke Abang, karena kasian kan kalo kebanyakan kimiawi fisikawi dan wiwiwi lainnya yang masuk ke badan Abang. Alhamdulillah batuk Abang hilang. Walaupun BBnya turun 3 ons, tapi paling nggak abang sudah kembali ceria 🙂

Selama sakit kemarin, aku banyak kasih oles2 di badan Abang, supaya nggak kebanyakan minum obat. Berikut review oles2 yang aku berikan yah :

1. Y&L Myrtle 

Udah nggak asing lagi dongs sama oil yang lagi super heits beberapa tahun terakhir? Si kecil mungil dengan bejibun manfaat. Karna ada temen yang kebetulan jualan Y&L, aku jadi tau guna2nya apa aja. Pas liat postingan Abang Shai yg lagi sakit, si empunya jualan Y&L langsung hub aku untuk pake series yang Myrtle. Fungsinya banyak banget salah satunya bisa untuk gangguan pernafasan bayi. Karna aku juga ketularan flu dari Abang, jadi aku oleskan juga oil ini ke dada. Rasanya cespleng ya ingus. Bisa nafas sedikit2 haha, aromanya seger khas daun2 di taman (apose si haha lebay deh) tapi bener si, kayak ada daun2 gitu, ternyata ini dari minyak nabati pilihan. Karena harganya yang lumayan yaah bu ibuuk, jadi aku pake nya cuma mau tidur aja, efeknya ke Abang juga dia jadi gk terlalu rewel bobok malemnya.

2. Herbal Oil Kutus Kutus

Herbal Oil dari Bali ini, punya banyak keunggulan. Terdiri dari 49 tanaman herbal dan dipercaya bisa meringankan (aku gk mau pake kata menyembuhkan, karena yg Maha Penyembuh cm Allah SWT) 63 penyakit. Jadi Abang tiap abis mandi dan dijemur pagi selalu dipijet Kutus – Kutus. Aromanya enaak banget, khas rempah2. Abang juga dahaknya jadi keluar banyaak banget, tapi tentu yaa dengan bantuan obat puyer juga. Well at least Healing Oil Kutus Kutus banyak membantu orang yang ingin sembuh dari berbagai penyakit. Harga dan barang cukup sesuai kok.

2. Belli to Baby Cold and Flu

Kalo ini aku pernah ditawarin pas Abang berenang di Mom N Jo. Wanginya si enak, kayak peppermint gt. Waktu Abang flu sebelum ini udah pernah aku oles2 juga di baju dan bantalnya. Alhamdulillah ngaruh si, tapi kalo flu yang berdahak menurut aku agak kurang kerjanya. Tapi overall untuk jaga2 supaya gk tambah parah ok lah.

Well sekian yah review2 kali ini, semoga Abang sehat terus, aamiin.. 

Moms dairy

#justought

Hai2 ternyata jadi momi di rumah itu nggak segampang yang dibayangkan sebelumnya, duduk diem di rumah, tapi harus bergelut dengan hati, kadang ingin kayak sebelum nikah, bisa prioritasin diri sendiri, kalau sekarang yang dipikirkan banyak banget jika mau mau melakukan sesuatu, karena pertimbangannya anak… 

Moms dairy

TV vs Baby

Haii.. akhirnya MumiShai sempetin nulis lagi disini.

Teknologi akhir2 ini nggak bisa deh dijauhin dari kehidupan kita sekarang. Ibaratnya Wifi atau kuota sama pentingnya sama udara, ya nggak sih? Bayangkan, wifi dan kuota bisa disetarakan sama oksigen, berarti efek “menghirup” sebongkah wifi sama dasyatnya sama hirup oksigen. Kalo nggak ada koneksi internet buat gadget rasanya seperti  “mati”, tapi yang mati bukan fisiknya, melainkan mati kehiduapan sosialnya, nggak bisa update lagi di social media, nggak bisa liat update-an orang2, nggak ada hiburan, nggak bisa liat2 kyutnya hamish daud hahahaha, pokoknya garing deh.

Nggak ada TV apalagi, tontonan selama ini bisa hilang sekejab bikin betee berkepanjangan bak mau period semu orang bakak diomelin (itu si MumiShai aja deh kayaknya hahaha) Tapi paling gak kalo ada gemuruh keriangan TV bisa menggantikam suara rumah yang sepi.

Nggak bisa dipungkiri, teknologi punya peran besar buat perkembangan kehidupan kita. Arus informasi yang masuk ke kita (apalagi anak2) bakal ngaruh ke tumbuh kembang manusia si penikmat teknologi. Apalagi anak otaknya masih kayak sponge (tapi nggak pake “Bob” yak wkwkwkwk), gampang banget nyerap informasi dari sana sini. Filter dan proses penyaringan informasi emang super penting buat kita orang tua. Salah2 bisa dapet informasi yang nggak akurat dan negatif untuk anak2.

PR orang tua sekarang menurutku jauh lebih besar di era milenial digital kwintal bantal (laah kenapa jadi “tal2” semua yak hahaha) Selain arus informasi yang harus di saring, gadget dan TV bikin ketagihan dan candu buat anak2. Liat cahaya dan warna warni bikin anak teruss aja fokus ke arah layar. 

Itulah yang terjadi sama Abang Shai, doi tu kalo udah nonton chanel Baby First gawat deh, bisa bengong kayak di hipnotis. Ada Raisa lewat juga diem aja kalik dia hahahaha.. Sejujurnya kita sebagai orang rumah cukup terbantu dengan adanya TV, jadinya kita yang tanpa baby sitter ini bisa melakukan aktivitas lain sembari Abang Shai menonton TV. Apalagi pas Abang Shai sakit mata kemarin, rewelnya bukan main deh, kasian si sebenernya, mungkin badannya nggak enak, matanya perih. Usia 6 bulan awal Abang Shai udah bisa bubbling atau ngomong “ba.. ba.. ba., ma.. ma.. ma..” Pas sakit mata kita kasih TV terus biar dia dieman daaan ilang seketika bublingnya itu.

Taken from google

Waktu Abang Shai udah sembuh, usia 7-8 bulan Abang Shai nggak kita kasih tonton Baby First sama sekali (tapi kita kasih tontonan India hahaha ya kagaklah) Aku terketuk untuk memberhentikan aktivitas nonton Abang Shai karena membaca sebuah artikel di facebook dimana ada orangtua yang memberikan kebebasan menonton TV seharian untuk anaknya yang balita. Walhasil sampai usia 2 tahun anak tersebut belum bisa bicara banyak, bahkan masih seperti bayi, hal ini dikenal juga sebagai Speech Delay. Dari artikel tersebut disebutkan, otak bayi belum bisa menerima gambar yang bergerak cepat dan belum bisa informasi segitu banyaknya, jadilah anak telat bicara.Mantan bos ku juga sudah mengingatkan untuk tidak memberikan banyak gadget ke Abang Shai dengan alasan itu, Speech Delay. Sama dengan yang pernah aku tonton seminar Dr. Tiwi di Youtube, “kita sebagai orang tua tidak bisa lebih menarik dari gadget atau TV, percuma saja kalau fisiknya anak sehat tapi masih belum bisa bicara” kurang lebih gitu deh omongannya. 

Emang si nggak semua anak seperti Abang Shai, yang begitu tertarik dan naksir berat sama TV, keponakanku cenderung cuek dan lebih memilih bermain daripada menonton TV. Tapi untuk kasus Abang Shai memang harus dikurangi frekuensi menonton TV nya. Selama sebulan itu rasanya ngos2an banget jagain Abang Shai yang super aktif dan nggak bisa diem. Gelinding sana-sini, lempar barang ini itu, aduh pokoknya super deh. Kita orangtuanya juga berasa garing banget jadi jarang nonton TV. Tapi ada hasilnya, bublingnya Abang Shai kembali lagi, horeee!

Usia 8 bulan sudah bisa merangkak juga dan sekarang di usia 9 bulan lagi suka2nya berdiri jalan merambat. Sekarang sudah boleh nonton TV baby first lagi, tapi tetep dibatasin jamnya. Paling nggak dengan mengurangi gadget bener2 terbukti anak lebih cepet berkembangnya.

Semoga bermanfaat yaah, see you in another article 

Moms dairy

Spoon-ish for baby 

Hai2, MumiShai lagi gabut karna anaknya udah bobok (ialah udah jam 11 malem) anaknya kecapean abis ngitungin voting pilkada wkwkwkw.. 

Udahlah gubernur2an biarkan yang lebih pinter dan lebih gurih2 nyoi aja yang bahas. MumisShai cuma mau bahas per-sendok-an Abang Shai aja hahaha.. penting gk penting yak?

Waktu hamil suka nyinyir gitu si kalo baca review ibu2 tentang alat2 perlengkapan bayi yang naujubile buanyaknya dan super aneh2, dalem hati “ngapain sik beginian di bahas? segala sendok lah, botol lah, shampo bayi lah” bukannya semua produk itu sama aja?? daaan jeng jeng jengg  DANG!! MumiShai yang super sotoy ini sekarang ngerasain pas Abang Shai migrasi dari perut ke dunia, ternyata barang2 bayi yang kayaknya penting2 enggak ini, banyak memiliki plus minus yang bisa direview dan di jajal satu2. 

Intermezzo dikit nih, Abang Shai Alhamdulillah banget2an urusan kunyah mengunyah, makan memakan, dia sama sekali nggak pake drama2 lambe turah *jiah ktawan bacaannya hahaha. Semua di hap hap, pernah si beberapa kali nolak makanan kayak bayam, tempe dan.. apa yah lupa?? Tapi kebanyakan yang dilahap dari yang di lepeh. Ditambah Abang ini jarang banget pake tambahan2 “lemak” seperti olive oil (belom pernah di coba si sebenernya wkwkwk) alasannya? hmm karena Abang Shai perutnya amat sangat sensitif, ketemu makanan yang gk jodoh ama perutnya bisa rewel semaleman kentut2 pake nangis bombay sinetron India, jadi aku belom berani banyak eksperimen macem2. Palingan aku cuma kasih kaldu2 aja seperti kaldu ayam, sayur dan daging sapi. Dari yang pernah aku baca di salah satu buku resep MPASI, indera pengecapan bayi belom setajam indera orang dewasa, jadi makanan yang menurut orang dewasa rasanya anyep, cuih, bleh, blenyek kaya “rasa yang pernah ada” *tsaah.. lain halnya buat lidah bayi, rasa makannya kaya lagi PDKT, berbunga bunga hahaha lebai ah! 😛 Ya intinya si bayi nggak harus banyak dikasih ina inu karena namanya pengenalan rasa aja kan..

Menu Abang Shai kebanyakan ngikutin saran dari DSA Margaretha yaitu liat di http://www.wholesomebabyfood.com Alhamdulillah si so far ok2 semua yang aku ikutin. Karena ini website dari luar, jadi banyak jenis makanan yang nggak ada disini dan kalopun ada muahal bener harganya, nggak deh!  Jadi aku ikutin yang familiar aja. 

Nah selera makan Abang Shai yang cukup OK punya ini, harus di dukung sama alat makan yang enak buat nyuapinnya seperti sendok yang aku bilang di awal tadi “penting nggak penting”, penting karena salah satu alat makan utama, kalau ukurannya nggak pas bisa nggak enak deh nyuapinnya. 

Sendok Bayi, Sendok Abang Shai, Alat makan bayi, Sendok tommee tippee, Sendok Ikea, Sendok Pigeon, Sendok Nuby
Sendok Abang Shai

Sebenernya semua sendok ini adalah sendok yang 1 set sama tempat makannya. Jadi nanti sekalian aku review dikit2 sama tempat makannya yah :

Dari atas ke bawah 

1. Nuby Easy Go Suction Bowl Spoon 

Nuby easy go, alat makan bayi, feeding set, green, baby
Nuby from Google Image

Menurut sumber salah satu Olshop deskripsi dari prodak ini adalah mangkok makan bayi yang dilengkapi suction agar mangkok bisa menempel pada meja jadi mendukung buibuk yang mau ngajarin anaknya baby led winning, juga lengkap dengan sendok yang bisa diselipkan di tutup mangkok.
Menurut aku alat makan ini ok banget, muat banyak trus bahannya juga bagus gampang dibersihkan. Nempel sama meja menjadi suatu important things karena usia Abang sekarang rasa ingin tahunya sangat menguasai dirinya. Jadi sendok, piring, makanan etc rasanya pengen dipegang sama dia. Dengan fitur nempel di meja ini, makanan nggak tumpah2. 

Sendoknya sendiri enak juga. Ukurannya pas deh nggak terlalu gede2 amat digenggam. Permukaan sendok agak terlalu lebar buat aku, jadi sekali nyendok kayaknya jadi banyak banget keambilnya, sedangkan mulut abang shai masi tiny wini bitty jadi celemotan deh.

2. Tommee Tippee Twin Bowl

Tomme Tippe from Google Image

Nah kalo ini Juara kelas! Sama deh kaya arti nama Abang Shaidan “rangking tertinggi” *azeegh* Sebenernya aku tu fens berat Tommee Tippee, karena nggak tau si kenapa hahaha.. tapi semua model dan fungsinya aku syukaa ngett. Tempat makannya sama kayak Nuby bisa buat dibawa kemana2, ukurannya lebih slim dari Nuby dan ini bisa buat 2 jenis makanan. Sendoknya juga diselipin di tutupnya. Tapi kalo buat suapin taro diatas meja si kayaknya agak kurang recommended yak, karena ringan banget jadi gampang diberantakin sama bocah. Kalo buat pergi2 okelah. 
Sendoknya laff angeet, karena yang pertama nih ringan banget depannya terbuat dari karet dan ada pengukur heater nya, jadi kalo makanannya kepanasan warna langsung berubah. Ke dua permukaan depannya tu pas banget buat masuk ke mulut bayi, nggak kegedean, nggak terlalu cekung bahkan cenderung lurus. Jadi nyuapin tu ya hap hap aja cepet banget pergerakannya. Nggak banyak yang nyisa di sendok. Aku sayang2 banget nih alat makan, rencananya si pengen taro di frame kaca wkwkwk lebay

3. Alat makan IKEA versi “Mata”

Aduh ini gemez banget siihh lucu bangett satu set ada gelas, piring, sendok sama bib nya. Kayak kodok bentukannya ada matanya gitu. Tapi sayanganya Abang Shai masih terlalu cimit buat mengerti kalo ini lucu bangeet lohh.. tempat makannya malah dibanting2, bib nya nggak betah di pake, gelasnya belom bisa nyedot, yah lama2 aku juga deh ni yang make. Tapi kalo baca petunjuknya emang buat Toddler si bukan bayi2 banget. Jadi mereka masih tulalit deh kaga nyambung sama alat makan se cutie pie ini. Tapi anehnya sendoknya tu bisa dipake dari seumuran Abang Shai. Ini juga 2nd option aku setelah Tommee Tippee. Karena emang enak juga si nggak terlalu cekung, trus ukurannya pas sama mulut bayi. Kalo di cuci juga cepet keringnya jadi enak nggak nunggu lama kalo mau dipake lagi. Karena sendoknya bisa dipake dari bayi, menurut aku ini produk long lasting, dari bayi sampe toddler bisa tetep kepake. Karena size nya juga cukup besar. Jadi awet deh! 

4. Pigeon feeding set

Kalo ini sih feeding set sejuta umat ibu2 yah, kalo kado nggak jauh2 pasti dari ini. Menurut aku ini kado yang berguna loh! Semuanya bisa kepake banget. Aku pake sendok dan mangkok kecilnya dulu. Mangkoknya pas banget buat sarapan dan makan buah sore, nggak terlalu besar tapi bisa bikin perut kenyang.  Tapi sendoknya nih deuuh ini si enaknya buat makanan yang cair2 karena cekung banget, jadi pasti tu ada makanan yang ketinggalan di bagian permukaan sendok. Ukurannya juga terlalu kecil. Buatku ini pasnya buat yang baru banget belajar makan. Kalo udah sering makan ini jadi nggak terlalu berguna si. Trus bahannya menurut aku kurang bagus juga, karena pernah aku kasih makan abang shai wortel, trus warna mangkok sendoknya jadi agak kusam dan nggak bisa hilang2 banget, kzl deh. Tapi buat sehari2 di rumah ini cukup ok si.. 

Alat makan Abang Shai semuanya kado, makaci yaak yang beliin, semuanya kepakee, semoga kalian semua dibales Allah Aamiiinnnnn

Segini aja yaaak, mudah2an barokaaah aamiiiinnn