My comment on what i see

Raising My Son..

“I’m not raising my son, I’m raising somebody’s husband and somebody’s father”

Kutipan itu aku lihat di Moms Club, yaitu sebuah forum di Facebook yang berisi ungkapan2 tentang perasaan Ibu gitu.. bagus2 deh! Kayaknya si yang bikin orang luar yah..

Kutipan tersebut sangat menyadarkan MumiShai, “iya yah, aku ni sedang membesarkan seorang calon imam loh! bukan cuma seperti membesarkan tumbuhan hahhahaha” (yakalee anak disamain sama taneman) 

Cuma kalau dipikir2 lagi, ibarat tanaman aja supaya tumbuh besar dan buahnya bisa dimakan, harus dirawat dengan langkah yang benar. Bibitnya, pupuknya, cara menyiramnya dan lain2 akan sangat pengaruh kepada perkembangan tanaman itu sendiri. Apalagi seorang anak kan? 

Aku sebetulnya sangat buta membesarkan seorang anak laki2. Karena lingkunganku didominasi dengan kaum hawa, jadilah aku agak gelagapan juga pas tau anak aku laki2, “gimana cara membesarkannya ya? masa aku harus belajar naik sepeda? (karena gue gk bisa haha), belajar onderdil mobil? kenalan sama macem2 games cowok?”

Untunglah Bapakshai sayang dan perhatian banget sama Shaidan. Dari usia 40 hari sampe hari ini, Abang Shai selalu dimandiin BapakShai tiap pagi. Bapakshai juga suka nemenin Abang Shai main mobil2an, main bola, main karet (lohh salah ya hehe) Jadi ada sosok seorang laki2 selain kakeknya yang sering abang shai temui. At least Shaidan jadi bisa membedakan sosok laki2 dan perempuan.

Perkembangan era sekarang bikin aku super takut membesarkan anak. Banyak banget aku liat laki2 yang “belok” jadi kaya perempewi *nauzubilaminzalik* bukan bermaksud merendahkan kaumnya mereka, tapi orangtua mana yang berharap anak laki2nya tumbuh seperti itu?

Selain itu, issue kekerasan juga kerap kali datang di layar HP kita lewat broadcast2 message. Pelakunya tak lain anak laki2, bahkan ada yang masih bisa dibilang “bocah” laki2 usia belasan tahun. Miris kan? Padahal seumuran mereka pada jamanku dulu sebandel2nya cuma cobain rokok, cabut sekolah dan coba2 nyetir mobil. Sekarang? bacok2an! Temen sendiri di bully, baik fisik maupun via dunia maya. Huhuhu kenapa sii kalian?? Siapa yang menggerakan kalian sampe kayak gitu?? Apa kalian nggak kasian sama orangtua kalian?? (hmm skrg udah jadi emak2 baru berasa ya)

Walhasil aku cuma bisa pasrah sama Tuhan aku, sama Allah Ta’ Ala, supaya anakku jadi anak yang soleh, selalu dalam lindungan Allah dan selalu sehat aamiin.. Untuk jadi anak yang soleh pun gak cuma dengan berdoa aja kan.. kita juga harus ikhtiar mengarahkan anak kita kepada jalannya Allah.. Ilmu agamaku masih jauh dari sempurna, masih super dangkal. Aku dari kecil disekolahkan di sekolah islam ternama sampai SMA. Buatku si membantu banget ya untuk pengenalan dan hafalan doa2, karena di rumah, mamaku juga jauh pengetahuannya tentang agama. Maka aku juga tertarik untuk membawa Shaidan kelak ke sekolah islami. 

Tapi.. aku sedih lagi liat issue SARA yang lagi berkembang bak mall2 di Jakarta yang makin megah2 (wkwkwk) kenapa si yang tadinya kita damai2 aja dengan keberagaman, sekarang harus bawa agama ke setiap aspek? Kadang pemicunya pun lingkungan, anak2 di doktrin untuk mengkafir2kan orang yang mereka sendiri belum paham arti kafir itu apa sebenarnya. Maka dalam hal ini sekolah agama pun juga amatlah penting untung diseleksi lagi, manakah yang menebarkan cinta kasih sebagaimana Islam sesungguhnya dan manakah yang terus menerus mengajarkan kebencian terhadap sesama umat manusia. 

Dari semua ini harapannya adalah dimulai dari rumah sendiri.. Komunikasi menjadi kunci paling utama agar anakku kelak bisa tumbuh menjadi manusia yang baik.

Menilik background aku dan suami, dimulai dari aku tumbuh dari seorang mama yang single parent. Aku dididik keras, penuh kedisiplinan, banyak hal yang dipaksakan mama terhadapku, dididik harus bisa menyenangkan hati mama tanpa mama mau tau apa sih yang bisa bikin aku senang? Barulah dewasa ini aku bisa komunikasi dengan mama, yang tadinya aku merasa hanya komunikasi “1 arah” saja. Memang tidak mudah menjadi orang tua berjuang sendiri, setelah dewasa aku baru menyadarinya.  Mungkin itu juga yang membuat mama mendidik aku dengan “awam” pengetahuan tentang parenting, yang beliau tahu hanya anak2 harus sopan dan tidak rewel. Hasilnya apa dengan pola didik mama seperti itu? Aku tumbuh menjadi pribadi yang ketakutan. Takut berbuat salah, takut mengambil keputusan, takut dengan banyak aktivitas fisik, takut dengan ini itu dan yang paling aku takutkan adalah sosok mama.. 


Mengenal keluarga BapakShai, jauh 180 derajat dibanding pola didik mama. BapakShai bersaudara dibiarkan menjadi diri mereka dengan karakter masing2 tanpa ada paksaan untuk menjadi “baik2” di depan orangtua mereka. Apa yang aku lihat dari pola didik mereka? BapakShai bersaudara bukannya takut sama orangtuanya, tapi hormat dan respect. Mereka tahu menempatkan diri kapan serius, kapan harus menyelesaikan tanggung jawab mereka, kapan harus bisa bersenang senang sebagai anak. 

Tapi apakah pola didik keluarga BapakShai sepenuhnya benar dan pola didik mama sepenuhnya salah? Ternyata masing2 didikan memiliki kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Karena terbiasa dengan kerasnya didikan mama dari kecil, begitu menyemplung di dunia pekerjaan yang bertemu dengan berbagai macam karakter figur dan menghadapi macam2 problematika dari luar maupun dalam kantor, membuat mental MumiShai terbentuk. MumiShai terbiasa untuk keluar dari comfort zone dan menghadapi orang2 yang nyebelin di kantor rasanya belum seberapa dibandingkan diomelin mama bak omelan mamanya Giant di Doraemon hahahaha.. 

Lain halnya dengan BapakShai bersaudara. Mereka terlalu nyaman dengan karakter mereka di rumah. Tidak mudah bagi BapakShai untuk bisa menghadapi beberapa jenis karakter orang2. Adaptasi menjadi sesuatu yang berat bagi BapakShai. 

Dari ke 2 pola didik tadi, aku kembali pada kunci utama, yaitu komunikasi. Aku kepengennya si bisa menjadi tengah2 antara didikan mama dan orangtua BapakShai, tegas namun tetap membuat Abang Shai nyaman bersama orangtuanya, dengan cara bicara apa saja yang dirasakan Abang Shai. Sehingga Abang Shai bisa respect kepada orangtuanya. Karena jika takut pada orangtua, dia tidak akan bisa menjadi dirinya senndiri, karena dibayangi ketakutan..


Bismillah semoga cita2ku bisa tercapai ya untuk menerapkan pola itu.

Shaidan sayangku, dunia ini memang semakin kejam. Mumi juga nggak tau sampai kapan bisa mendampingimu terus. Mumi cuma berharap, kamu bisa tumbuh dan berkembang menjadi anak yang soleh seperti doa2 Mumi setiap solat. Menjadi anak yang berguna, yang tahu menempatkan diri, yang tahu apa cita2 Shaidan sesungguhnya.. 

Kali ini bahasan MumiShai berat yah hihi but I guess.. this is love letter for Shaidan in a future 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s