My comment on what i see

Treatment Chiropraktic menurutku..

Hi, akhirnya aku nulis lagi setelah sekian lama mengumpulkan niat dan semangat buat nulis, secara banyakan malesnya daripada pengennya hahaha..

Beberapa minggu terakhir ini, publik dihebohkan dengan berita kematian wanita cantik Siska Alya yang diduga akibat malpraktik pengobatan Chiropractic. Sebelum membahas lebih lanjut, aku ingin mengucapkan turut berbela sungkawa sedalam – dalamnya atas kejadian ini. Semoga arwah beliau diterima disisiNya dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, aamiin..

Saat berita ini keluar, teman – teman yang tahu aku berobat ke Chiropractic langsung WhatssApp ke aku, guna memberikan warning berhati – hati berobat dengan metode Chiropractic. Aku terus terang kaget dan shock dengan berita tersebut. Karena selama ini tidak ada terdengar keluhan sama sekali tentang Chiropractic.

Sedikit bercerita, aku sudah 8 tahun kurang lebih mengikuti treatment Chiropractic. Awalnya diajakin temen yang juga pasien Chiropractic dengan keluhan yang sama denganku yaitu Skoliosis. Ia mengaku merasa lebih baik dengan pengobatan tersebut. Lalu aku disarankan ke Chiropractic Indonesia yang terletak di Dharmawangsa.

images

Saat aku kesana, tampak meyakinkan. Banyak alat – alat latihan untuk penyembuhan berbagai masalah tulang dipandu dengan therapist dari dalam negeri. Begitu ketemu dengan Chiropraktor-nya, seperti sudah dikasih tau oleh temanku sebelumnya bahwa sang Chiropractor atau Dokternya adalah orang bule, kalo nggak salah orang Amerika atau Aussie gitu?

Sambutannya ramah sekali, penuh humor dan tentu ya nggak fasih berbahasa Indonesia. Ia menyarankan untuk aku roentgen dulu di tempat lain (karena tempat tersebut tidak menyediakan alat roentgen) Setelah melihat hasil roentgen ku, baru dia berikan beberapa treatment, latihan yang bisa dikerjakan di rumah dan di klinik. Aku dipijet, di “kretek-krektek”in leher ke bawah, terutama punggung. Rasanya si enak banget, lega gitu kan pegel – pegel ilang.

Aku ikutin semua saran dia untuk pakai tas yang ransel saja agar tulang lebih seimbang dan ditambah menggunakan sol sepatu khusus yang dibikin oleh Body Clinic (berbeda clinic dengan yang di Dharmawangsa, sama – sama orang bule tapi yang ini lebih khusus ke masalah kaki, sekarang di tutup karena nggak ada izinnya juga, jeng jenggg) karena ternyata aku menderita flat foot juga, jadi pengaruh ke tulang belakang. Di saat anak – anak kampus yang waktu itu girly banget, aku cuma bisa gaya kaya Si Bolang, dengan tas ransel dan sepatu kets.

Ternyata membuahkan hasil, keadaan tulang aku membaik saat itu. Chiropraktor aku pindah klinik ke tempat lain, aku ikutin. Kemanapun dia pindah, aku selalu ikut karena sudah merasa cocok. Bahkan aku sempet diliput oleh salah satu TV nasional swasta tentang pengobatan Chiropractic *cieh bangga masuk tipi*

Satu hari aku di telfon oleh asisten dokter tersebut, Ia mengatakan bahwa Dokter itu kabur ke negaranya dengan meninggalkan hutang di Jakarta. Ternyataaaa, doi kaga punya yang namanya KITAS (Kartu Izin Tinggal Terbatas) dimana biasanya orang bule kalo kerja di Indonesia, kudu wajib punya kartu ini.

Panik dong, pindah kemana nih? Sempet beberapa bulan nggak berobat Chiro. Sempet juga nyoba Chiropractic Indonesia di pusatnya yaitu di kantor BEI (Bursa Efek Indonesia) Dokternya lupa siapa tapi aseli beda banget dan sakit, disuruh batuk-batuk ampe keras buat memperkuat otot perut tapi sambil diteken gitu perutnya. Akhirnya nggak mau lagi ke Chiro itu.

Tapi nggak kapok dengan pengobatan Chiropractic. Lupa gimana ceritanya, akhirnya aku berobat ke Body Clinic yang waktu itu lagi baru buka praktek Chiropractic. Nyobain sekali cocok. Akhirnya berobat terus, tapi nggak serajin waktu sama dokter yang pertama kali karena kesibukan kuliah tingkat akhir. Trus setelah beberapa tahun berobat, again, ditinggalin lagi sama dokternya  karena dia nggak dapet2 KITAS dan dia izin pergi balik ke negaranya, di Spanyol or manaa gitu lupa deh. Trus pindah ke Therapist perempuan di tempat yang sama. Cocok lagi, dan beberapa bulan dia juga ditawarin kerja di Perancis, jadi dia balik deh ke negaranya. Hufftt..

Setelah itu aku mutusin balik lagi ke tempat asal, yaitu Chiropractic Indonesia di Dharmawangsa. Ditawarin resepsionisnya berobat dengan Dr. Neil (sampe sekarang masih sama dia) ya Alhamdulillah cocok, tapi pertanyaan pertama yang aku lontarkan sama dia adalah “lo nggak bakal kemana – mana kan?” dia ketawa dan bilang “nooo” fiuhh lega deh rasa hati, apalagi sambil liat mukanya yang ganteng kan.. hahahaha 😛

Selama beberapa tahun aku berobat di Chiropractic, Alhamdulilah banget nggak pernah ngalamin efek yang aneh – aneh. Semua yang ditawarkan masih masuk di akalku, cuma datang 3x seminggu dan itupun sekali sehari. Trus metode latihan di rumah juga masih bisa dipahami. Yang paling aku suka adalah, Chiropractic tidak pernah memberikan obat atau bedah apapun. Jika pengobatan yang dijalani dari mereka merasa kurang ada hasil karena mungkin pasien sudah terlalu parah, maka mereka menyarankan berobat ke dokter ortopedi. Kekurangannya seperti layaknya pijet, pegelnya ilang sesaat, dan bisa datang lagi beberapa jam kemudian.

Walau hamil, aku tetap berobat di Chiropractic, paling nggak seminggu sekali. Aku berteman juga dengan salah satu pasien Chiro yang sudah memiliki 2 anak dan selama hamil beliau rutin menjalankan Chiropractic. Alhamdulillah kandungannya baik – baik saja.

Aku sempat cerita tentang ucapan dokter ortopedi yang mengatakan Chiropractic tidak akademisi (blogs sebelumnya), Dr. Neil langsung protes “kita sekolah sama seperti dokter, belajar bedah juga, tidak mudah di Amerika lulus menjadi Chiropractor, gelar yang diberikan-pun sebagai Dokter”, jawaban dia cukup menenangkan. Ditambah di Cliniknya juga terpampang (kalo nggak salah, agak lupa apa aja, banyak sih!) izin praktek, master- master yang diraih Dr. Neil, dan sebagainya. Intinya si udah ada izin dan memang lulusan Chiropractic, makannya aku percaya berobat disitu.

Namun sekarang, sepertinya izinnya dicabut sementara menunggu keputusan DepKes, padahal Chiropractic Indonesia sudah mengikuti prosedur yang ada setahuku dan Dr. Neil juga sudah punya KITAS. Aku jadi sedih tidak bisa berobat dulu sampai waktu yang belum tahu kapan 😦

Setahuku, Chiropractic Indonesia adalah pengobatan Chiropractic pertama yang masuk di Indonesia. Kalau sekarang ini kan tiba – tiba jadi menjamur, entah bagaimana. Menurutku mau dimanapun berobatnya, kita sebagai pasien wajib kritis dengan izin clinic, rumah sakit atau apapun itu (terutama yang tenaga medisnya orang asing) Biasanya terpampang di dinding klinik izin dsb. Sebelum berobat, kita juga sebaiknya cari tahu dokter yang bagus yang mana, banyak tanya dengan kerabat dan cari tahu di internet, jangan main percaya saja. Aku juga bingung dengan masalah KITAS, bagaimana bisa orang bisa kerja selama itu tanpa ada izin? Jadi passportnya izinnya liburan gitu? Dan apakah segitu susahnya mengurus izin kerja disini?

Semoga kasus kematian karena malpraktik tidak akan terulang lagi dimanapun, aamiin, dan semoga hukum medis lebih ditegakan lagi.

Sedikit tambahan info, selama aku hamil, aku menggunakan semacam belt yang di rekomendasikan oleh dokter ortopedi, yaitu “LoombaMum” dari Thuanse, gunanya tak hanya sebagai penyanggah perut, tapi juga penahan punggung agar tidak tambah miring.Lebih jelasnya bisa lihat di http://www.thuasne.com/innovation-products/solutions/

loomba mum2

loomba mum

Ciaoo bellaaaa..

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s