My comment on what i see

Raising My Son..

“I’m not raising my son, I’m raising somebody’s husband and somebody’s father”

Kutipan itu aku lihat di Moms Club, yaitu sebuah forum di Facebook yang berisi ungkapan2 tentang perasaan Ibu gitu.. bagus2 deh! Kayaknya si yang bikin orang luar yah..

Kutipan tersebut sangat menyadarkan MumiShai, “iya yah, aku ni sedang membesarkan seorang calon imam loh! bukan cuma seperti membesarkan tumbuhan hahhahaha” (yakalee anak disamain sama taneman) 

Cuma kalau dipikir2 lagi, ibarat tanaman aja supaya tumbuh besar dan buahnya bisa dimakan, harus dirawat dengan langkah yang benar. Bibitnya, pupuknya, cara menyiramnya dan lain2 akan sangat pengaruh kepada perkembangan tanaman itu sendiri. Apalagi seorang anak kan? 

Aku sebetulnya sangat buta membesarkan seorang anak laki2. Karena lingkunganku didominasi dengan kaum hawa, jadilah aku agak gelagapan juga pas tau anak aku laki2, “gimana cara membesarkannya ya? masa aku harus belajar naik sepeda? (karena gue gk bisa haha), belajar onderdil mobil? kenalan sama macem2 games cowok?”

Untunglah Bapakshai sayang dan perhatian banget sama Shaidan. Dari usia 40 hari sampe hari ini, Abang Shai selalu dimandiin BapakShai tiap pagi. Bapakshai juga suka nemenin Abang Shai main mobil2an, main bola, main karet (lohh salah ya hehe) Jadi ada sosok seorang laki2 selain kakeknya yang sering abang shai temui. At least Shaidan jadi bisa membedakan sosok laki2 dan perempuan.

Perkembangan era sekarang bikin aku super takut membesarkan anak. Banyak banget aku liat laki2 yang “belok” jadi kaya perempewi *nauzubilaminzalik* bukan bermaksud merendahkan kaumnya mereka, tapi orangtua mana yang berharap anak laki2nya tumbuh seperti itu?

Selain itu, issue kekerasan juga kerap kali datang di layar HP kita lewat broadcast2 message. Pelakunya tak lain anak laki2, bahkan ada yang masih bisa dibilang “bocah” laki2 usia belasan tahun. Miris kan? Padahal seumuran mereka pada jamanku dulu sebandel2nya cuma cobain rokok, cabut sekolah dan coba2 nyetir mobil. Sekarang? bacok2an! Temen sendiri di bully, baik fisik maupun via dunia maya. Huhuhu kenapa sii kalian?? Siapa yang menggerakan kalian sampe kayak gitu?? Apa kalian nggak kasian sama orangtua kalian?? (hmm skrg udah jadi emak2 baru berasa ya)

Walhasil aku cuma bisa pasrah sama Tuhan aku, sama Allah Ta’ Ala, supaya anakku jadi anak yang soleh, selalu dalam lindungan Allah dan selalu sehat aamiin.. Untuk jadi anak yang soleh pun gak cuma dengan berdoa aja kan.. kita juga harus ikhtiar mengarahkan anak kita kepada jalannya Allah.. Ilmu agamaku masih jauh dari sempurna, masih super dangkal. Aku dari kecil disekolahkan di sekolah islam ternama sampai SMA. Buatku si membantu banget ya untuk pengenalan dan hafalan doa2, karena di rumah, mamaku juga jauh pengetahuannya tentang agama. Maka aku juga tertarik untuk membawa Shaidan kelak ke sekolah islami. 

Tapi.. aku sedih lagi liat issue SARA yang lagi berkembang bak mall2 di Jakarta yang makin megah2 (wkwkwk) kenapa si yang tadinya kita damai2 aja dengan keberagaman, sekarang harus bawa agama ke setiap aspek? Kadang pemicunya pun lingkungan, anak2 di doktrin untuk mengkafir2kan orang yang mereka sendiri belum paham arti kafir itu apa sebenarnya. Maka dalam hal ini sekolah agama pun juga amatlah penting untung diseleksi lagi, manakah yang menebarkan cinta kasih sebagaimana Islam sesungguhnya dan manakah yang terus menerus mengajarkan kebencian terhadap sesama umat manusia. 

Dari semua ini harapannya adalah dimulai dari rumah sendiri.. Komunikasi menjadi kunci paling utama agar anakku kelak bisa tumbuh menjadi manusia yang baik.

Menilik background aku dan suami, dimulai dari aku tumbuh dari seorang mama yang single parent. Aku dididik keras, penuh kedisiplinan, banyak hal yang dipaksakan mama terhadapku, dididik harus bisa menyenangkan hati mama tanpa mama mau tau apa sih yang bisa bikin aku senang? Barulah dewasa ini aku bisa komunikasi dengan mama, yang tadinya aku merasa hanya komunikasi “1 arah” saja. Memang tidak mudah menjadi orang tua berjuang sendiri, setelah dewasa aku baru menyadarinya.  Mungkin itu juga yang membuat mama mendidik aku dengan “awam” pengetahuan tentang parenting, yang beliau tahu hanya anak2 harus sopan dan tidak rewel. Hasilnya apa dengan pola didik mama seperti itu? Aku tumbuh menjadi pribadi yang ketakutan. Takut berbuat salah, takut mengambil keputusan, takut dengan banyak aktivitas fisik, takut dengan ini itu dan yang paling aku takutkan adalah sosok mama.. 


Mengenal keluarga BapakShai, jauh 180 derajat dibanding pola didik mama. BapakShai bersaudara dibiarkan menjadi diri mereka dengan karakter masing2 tanpa ada paksaan untuk menjadi “baik2” di depan orangtua mereka. Apa yang aku lihat dari pola didik mereka? BapakShai bersaudara bukannya takut sama orangtuanya, tapi hormat dan respect. Mereka tahu menempatkan diri kapan serius, kapan harus menyelesaikan tanggung jawab mereka, kapan harus bisa bersenang senang sebagai anak. 

Tapi apakah pola didik keluarga BapakShai sepenuhnya benar dan pola didik mama sepenuhnya salah? Ternyata masing2 didikan memiliki kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Karena terbiasa dengan kerasnya didikan mama dari kecil, begitu menyemplung di dunia pekerjaan yang bertemu dengan berbagai macam karakter figur dan menghadapi macam2 problematika dari luar maupun dalam kantor, membuat mental MumiShai terbentuk. MumiShai terbiasa untuk keluar dari comfort zone dan menghadapi orang2 yang nyebelin di kantor rasanya belum seberapa dibandingkan diomelin mama bak omelan mamanya Giant di Doraemon hahahaha.. 

Lain halnya dengan BapakShai bersaudara. Mereka terlalu nyaman dengan karakter mereka di rumah. Tidak mudah bagi BapakShai untuk bisa menghadapi beberapa jenis karakter orang2. Adaptasi menjadi sesuatu yang berat bagi BapakShai. 

Dari ke 2 pola didik tadi, aku kembali pada kunci utama, yaitu komunikasi. Aku kepengennya si bisa menjadi tengah2 antara didikan mama dan orangtua BapakShai, tegas namun tetap membuat Abang Shai nyaman bersama orangtuanya, dengan cara bicara apa saja yang dirasakan Abang Shai. Sehingga Abang Shai bisa respect kepada orangtuanya. Karena jika takut pada orangtua, dia tidak akan bisa menjadi dirinya senndiri, karena dibayangi ketakutan..


Bismillah semoga cita2ku bisa tercapai ya untuk menerapkan pola itu.

Shaidan sayangku, dunia ini memang semakin kejam. Mumi juga nggak tau sampai kapan bisa mendampingimu terus. Mumi cuma berharap, kamu bisa tumbuh dan berkembang menjadi anak yang soleh seperti doa2 Mumi setiap solat. Menjadi anak yang berguna, yang tahu menempatkan diri, yang tahu apa cita2 Shaidan sesungguhnya.. 

Kali ini bahasan MumiShai berat yah hihi but I guess.. this is love letter for Shaidan in a future 

Moms dairy

Abang Turning 1 and sensory class 2

Haii!! ii nggak terasa yah cepet banget Shaidan masuk usia 1 tahun! Perasaan baru aja curhat tentang proses melahirkan, sulitnya awal2 nyusuin daan drama2 lainnyah! Ee sekarang nggak taunya bocahnya udah bisa dipekernalkan umurnya dengan sebutan … tahun (yang biasanya masih .. bulan) 

Rollercoaster selama setahun kemarin memang bikin Mumishai dan Bapakshai belajar buanyaaak banget mengenai anak. Apalagi setahun kemarin Abang lumayan sering sakit kan seperti posting2an aku sebelumnya, jadilah kita lumayan protected buat nggak bawa Abang sering2 ke tempat umum macam mol gitu. Ke kawinan yang malem2 pun kita belum beranikan diri buat ajak Abang. 

Tapi hasilnya dari yang kita alamin setelah itu, Abang Shai jadi penakut sama benda2 tertentu, jadi kagetan juga karena lebih sering di rumah yang suasananya cukup hening dibanding suara2 di luar rumah. Aku sebenernya agak deg2an juga, takut pengaruh ke tumbuh kembangnya kalau Abang aku biarkan selalu takut sama semua hal. Takut boleh, tapi sama Allah aja yak nak, yang lain harus berani! apalagi ama cewek Bang, hahaha malu ah kalo takut2 depan cewek :p 

Akhirnya aku cobain ikutin Abang lagi ke sensory class yang ke 2 di Milka Daycare juga. Untuk kelas sensory yang ke 2 ini, lebih melatih anak melewati beberapa “rintangan” yang di setting unyu2 hihu.

Dia si sebenernya seneng2 aja awalnya, apalagi kelas warming up nya adalah memperlihatkan cahaya2 lampu ala2 disko di ruangan gelap dengan gelombang buble2 ditiupkan di udara. Karena di kelas yang sebelumnya pernah juga kayak gt, jadi dia agak familiar and he was so excited! Nggak takut2 sama sekali. Padahal peserta kelas kali ini lebih banyak dari kelas yang pertama. 

Tapi  pada saat mengikuti tahap ke 2 dimana sebenernya ini adalah main games yang melatih sensor anak2, zonk berat! Malah takut total zzz.. Mungkin karena waktunya samaan dengan jam bobonya juga. Selain itu, Shai takut banget sama gambar2 yang memperlihatkan mata besar, di TV aja kalau ada tampilan yang memperlihatkan animasi mata besar, gesture badan Shai langsung minta peluk dan gendong. Jadilah dia bete diawal permainan, karena awalnya dia harus “menceburkan” kakinya ke dalam kolam buatan dimana kolam tersebut terdapat gambar wajah hewan panda dengan mata hitam yang besar. Uwaa teriak2 nangis deh dari situ.

Masuk ke terowongan buatanpun dia ogah beraaat! Malah nangis2, kalah bang sama bocah wedok pada berani2 pisann hahaha! Setelah permainan masuk ke terowongan, seharusnya menginjakan kaki di keset bulu dan mengambil mainan di keranjang yang sudah dipenuhi tumpukan2 kertas yang digunting kecil2. Tujuannya adalah agar anak dapat mencari mainan yang tersembunyi dari tumpukan kertas2 kecil. Ee Abang tetep nggak mau nyentuh! Baik keset maupun kertas2nya emoh jauh2 deh, yang disentuh cuma mainannya.

Permainan terakhir yaitu melukis pakai cat air yang aman untuk bayi dan anak2. Haduh boro2 deh mau “ngelukis ala2”, tangannya aku tempelkan ke cat air aja udah jerit2 bocahnya hahaha.. Sedikit2 Abang mau pegang kuasnya dan langsung aku tempelkan kuasnya ke kertas karton yang sudah disediakan. Uwaa berontak badannya dan nangis2 karena nggak mau diarahin sendiri. Walhasil aku dan Abang Shai super cemong bekas cat air karena dia berontak terus hahaha. Tapi karena catnya aman banget buat bayi, dibilas pakai tissue basah pun hilang.

Aku merasa semua rentetan permainan bagi dia kayak masuk ke dalam rumah hantu kali yah!? Ngeriii! Pengen cepet2 keluar! Kayak di kejer2 utang! hahahaha itu mah Mumishai :p Udahlah cm 1 hal yg bisa bikin dia diem, nenen! Akhirnya aku kasih mimi aja di ruang nursury. Disitu aku ajak ngobrol Abang Shai, nanyain kenapa si dia kok nggak terlihat happy sama sekali dengan semua permainan yang ada? “Abang yang baik ya sama temen2nya, sama org2 di luar yang udah nunggu Abang main..”

Terakhir ditutup dengan memindahkan water bean (kalo nggak salah namanya itu ya, yaitu kumpulan semacam biji2an warna warni yang berisi air – sama seperti kelas pertama), ke dalam wadah kosong. Karena Abang Shai udah pernah familiar dengan ini, jadi dia happy lagi. Seneng banget main basah2an. 

Lalu kelas selesai juga dengan susah payah, fiuuh.. Aku dan BapakShai sempet minum ke starbucks dulu di deket Milka daycare. Aku lihat mata Abang Shai udah tinggal 5 watt hahaha.. Ternyata dia rewel ampun2an memang karena ngantuk dan liat gambar mata. 

Pelajaran baru lagi yang aku dapat dari Abang Shai adalah :  kita as a parent nggak akan pernah bisa maksain mood anak. Walau dia masih kecil baru memasuki usia 1 tahun, dia tetap adalah seorang manusia juga yang punya beberapa perasaan nggak enak yang hanya bisa dia ungkapin dengan nangis. Orangtua bener2 cuma bisa mengarahkan anak. Responnya baik atau nggak dikembalikan lagi ke anaknya 🙂 

My comment on what i see

Roseola Abang..

Haii setelah sharing tentang seneng2 balik lagi deh sharing ttg penyakit huhuhu.. it was my fault, bener2 bisa salahkan ke aku sebagai Ibunya yang susah banget jemur Abang Shai pagi2 sehingga Abang rentan banget ketularan sakit. Padahal jemur pagi itu bagus banget, banyak vitamin yang didapat. Jadi imunnya lebih terbentuk.

Hari Senin sekitar 3 minggu lalu, aku titipkan Abang di rumah mertua, beserta helper di rumah buat bantu2 Ibu mertua mengurus Abang. Aku kebetulan harus ke dokter gigi untuk tambal gigi dan ke blok-m square ada keperluan sama mamake. Tiba2 helper aku ngabarin kalo Abang demam, panasnya sampe 38 C. Jujur pas denger itu aku bete setengah mati. Baru juga sembuh dari batuk berkepanjangan sekarang kena lagi demam. Ngapain aja si di rumah mertua ampe demam gini? Siram2an, ujan2an apa gimana si?

Di dokter gigi pikiranku udah kalut, “Abang hamish daud lagi apa yah?”, hahaha ya kagaklah, aku mikirin Abang Shai yang lagi2 kena sakit. Dokter gigiku menanyakan kenapa ini liur keluar terus? Jadi menyulitkan pengerjaan penambalan gigi menurutnya, apa ada yang lagi aku pikirkan? Aku bilang aku lagi mikirin anakku..

Aha! Untung aku selalu sedia Tempra di tas Abang (macam iklan2 endorsan artis huehue) Aku udh minta tlg helper aku untuk kasih Tempra, alhamdulillah turun demamnya sedikit. Waktu aku jemput Abang dari rumah mertua, demamnya naik lagi. Malam harinya sampe sempet 39. Aku kasih Tempra turun lagi dikit. 

Besokannya aku bawa ke Dr. Hari Martono. Beliau bilang tenggorokannya merah, sepertinya baru tertular orang terdekat. Kupikir syapa yang lagi flu yah? Nggak ada kayaknya. Dokter cuma kasih antibiotik Fixacep kalo gk salah namanya dan racikan puyer. Beliau menyarankan kalau masih demam 3 hari cek darah aja, karena sekarang lagi musim Demam Berdarah (DB) dan ciri2nya macem2.

Akhirnya pas sampai rumah, Abang kembali demam. Seperti pada sakit terakhir, Abang jadi susah makan deh kasian, dikasih obat antibiotik kurang pengaruh juga, Tempra turunnya dikit2, sempet keluar juga deh ni air mata, kenapa si anakku yang imut2 ini terserang sakit terus? kasihan badannya melawan virus yang nggak tentu ini. 

Malam hari juga rewel, minta nenen tapi cuma buat di gigit2 pake giginya yang baru beberapa tumbuh, seperti menahan rasa sakit dari apa gitu. Akhirnya karena hari Kamis-nya libur (pastinya Dokter2 selain UGD tidak ada yang praktik),  maka kuputuskan esokan harinya yaitu hari Rabu datang lagi ke Dokter Hari. Ternyata dokter sudah booking test lab bila masih demam di hari Rabu. Memang hari Rabu masih demam, tapi pagi2 subuh aja, habis itu udh nggak demam lagi. Tapi tetep kuputuskan ke dokter deh, daripada kenapa2. 

Lalu Abang Shai di test darah, disuntik ambil darah kasiaan banget dehh huhu, sama kayak pas di uap, jejeritan minta ampun kasian 😦 dia udah pengen banget berontak tapi aku tahan dengan sekuat tenaga.

Kita nunggu hasil test darah 2 jam, Abang sempet pup dan tidur di nursury room. Saat pup karena aku buru2 gantiin diapersnya (maklum yak buibuk tempat terbatas, antrian yang pengen ganti juga banyak macam di ATM hahaha) aku nggak ngeh kalau dia itu pupnya berbentuk lebih cair dari yang biasanya. Sampai kena ke bajunya dan harus aku gantikan.

Setelah test darah selesai, hasilnya Alhamdulillah negatif DB. Tapi nggak ada tanda2 sakit lain. Aku sempet nanya apa ini roseolla? Dokter cuma bilang, “bisa jadi”

Hari itu berlalu juga. Alhamdulillah Abang nggak demam lagi. Tapi semakin sering pup cair atau mencret. Aku pikir karena obat antibiotiknya mungkin Abang nggak kuat. Sampai pagi2 jam 4 Abang bangunin aku sama bapaknya untuk minta digantiin diappers. Dia sih nggak nangis, ceria2 aja, tapi pupnya udah beleberan (maap kalo jijik yak) di sepreinya dia. Wah pagi2 kita bersih2 deh. Semenjak udah makan tesktur pup nya nggak kaya gini. 

Besokannya Alhamdulillah mencret berenti, tapi dateng lagi yang baru, yaitu bentol2 merah. Bentuknya ada yang bentol kecil2 ada yang melebar seperti ruam popok. Awalnya cuma di leher, lama2 menyebar ke perut dll. Aku tadinya udah males dan capek bawa Abang ke RS, karena aku lihat dia masih seger mukanya, trus juga masih mau makan dan mimi jadi buat apa sering2 ke rumah “sarang virus”? Aku mau tunggu sampai 2 hari apakah merah2nya bertambah banyak? Tapi desakan dari keluarga bak toa masjid, kenceng banget! jadi nggak enak kalo nggak diikutin huehue.. akhirnya aku bawa lagi ke dokter. Tapi kali ini ke  klinik Dr. Sanders. 

Dokter Sander bilang bener ini kena Roseolla atau dalam bahasa sehari harinya Tampek. Keluar merah2nya malah bagus karena menandakan akan sembuh. Aku hanya disarankan untuk memberikan lotion Caladine dan minum Lactobee bila masih ada diare. Menurut prediksi Dokter, keadaan Abang seperti ini sampai 3 hari.

Maka rentetan sakit Abang dari Senin lalu yaitu demam, mencret dan diakhiri dengan keluarnya bintik merah pada badan adalah ciri2 sakit Roseola. 

Apa si sebenernya Roseola itu? 

Roseola atau dalam istilah medis lainnya disebut roseola infantum, merupakan infeksi virus yang menyerang bayi atau anak-anak dengan gejala utama berupa demam dan ruam merah muda di kulit. Usia enam bulan hingga satu setengah tahun merupakan usia yang paling rentan terkena kondisi ini.  (menurut aladokter.com)

Roseola menular ke anak2 lain usia 6 bulan – 2 tahun. Setelah keluar dari ruangan Dokter Sander, kami disarankan segera masuk ke mobil oleh suster, supaya nggak menularkan ke yang lain. 

Mudah2an Abang selalu sehat yah.. Aamiin..

My comment on what i see

Join Sensory Class

Hai2, Alhamdulillah Abang udah sembuhan, udah ceria dan lahap makan lagi, horee!  Syuh Syuh pergi kau penyakit2 nakal, jangan deketin Abang dan keluarga lagi yah.

Kalau anak sakit, jadi inget waktu kita masih cilik yak, gimana repotnya orang tua kita kalo kita sakit. Sekarang ngerasain sendiri repot dan sedihnya kalo anak sakit.

Abang sakit gitu bikin tambah parno aku bawa Abang pergi2, takut ketularan si anu, si inu yang lagi flu, lagi demam, lagi panuan lah hahaha yakalee.. Tapi jadi tambah hati2 aja si.

Cuma 1 hal yang aku semangat dan beranikan diri bawa abang, yaitu ke sekolah para bayi cuilik. Dari dulu pengeeeenn pake banget bawa Abang ke sekolah bayi. Dulu udah nanya2 sama Rockstar Gym, udah dikejer2 terus buat trial, tapi jamnya gk sesuai sama jam bobok abang. Jadilah ke tunda2 terus mau trial. 

Kenapa aku pengen sekolahin Abang walaupun masih bayi, karena aku lihat energi Abang itu luar biasa besarnya. Tenaganya untuk seukuran bayi juga luar biasa. Aku jujur nggak kuat buat ngikutin pergerakannya Abang! Hahaha.. udah jompo bener! Aku ngerasa energi Abang ibarat gelas 2 liter diisi dengan air 10 liter! Kebayangkann “air” nya beleber kemana2 hahahaha.. Sayang banget kalo nggak disalurkan ke tempat yang memadai. Selain itu biar Abang bergaul dan nggak takut ketemu orang banyak.

Trus liat postingan temen di IGstory nya yang sharing baby girl-nya ikutan sensory class. Penasaran tingkat kecamatan dong yahhh, akhirnya nanya2 ternyata diadakan di Mika Daycare South Quarter TB Simatupang. 

Mirip2 Rumah Dandellion yang nggak selalu ada regular class, Mika Daycare juga cuma beberapa kali aja ada kelas untuk bayi. Untung masih kebagian kelas kemarin 4 Mei 2017 lalu. Dapetlah rejeki si Abang kebagian kelas Sensory Class untuk bayi 6 bulan – 16 bulan. 

Tapi sebelumnya, sensory class itu apa sih? Kalau yang aku liat di website2 luar dan dari penjelasan sang psikolog di Mika Daycare, Sensory class adalah kelas untuk meningkatkan saraf sensorik anak dari mengenalkan beberapa struktur, tekstur, suara, berbagai bentuk dan lain2. Lingkungan yang mendukung akan meningkatkan otak bayi dan intelektual kedepannya *azeeek berat bener yak bahasannya hahahaha* 

Suasana Mika Daycare gemesin banget. Walaupun letaknya di area gedung perkantoran, tapi suasana anak2nya tetap terasa. Ada outdoor gamesnya seperti trampolin, ayunan dan perosotan. Pencahayaannya pun juga bagus banget sinar matahari bisa masuk dengan hangatnya, jadi nggak seperti yang dibayangkan, kalo sekolah di gedung atau mall akan “babay” dengan matahari. 

Karena dasarnya tempat ini adalah Daycare (atau penitipan anak), jadi dibuat senyaman mungkin. Anak bisa merangkak jalan kesana kemari. Kita dateng pas kelas belum mulai 5 menit. Abang masih penyeseuaian tempat, tapi nggak lama si mungkin karena memang tempatnya yang bayi friendly banget. 

Setelah itu sang psikolog memulai kelas dengan menjelaskan tujuan dari sensory class ini, yaitu merangsang otak baby kita untuk selalu berkelakuan tenang. Diibarartkan seperti film kartun Winnie The Pooh, ada tokoh Eyore si kedelai yang lemot, ada juga tokoh Tigger yang terlalu cepat bergerak. Maka target sensory class adalah agar anak dapat seperti sosok Pooh yang tenang dan stabil.

Kelas diawali dengan bernyanyi, lalu memberikan mute2 untuk membuat gelang digunakan ke anak2 masing2 (gk tau juga si gunanya apa haha) Setelah itu tiap orang tua diberikan kain untuk di sematkan ke wajah anak2. Ada anak yang nangis terus, ada yang hanya terdiam dan Abang Shai tetep dong nggak mau diem. 

Setelahnya anak2 diberikan bergiliran untuk memegang semacam “ular-ularan” yang terdiri dari berbagai macam jenis kain dan warna. Disini anak akan merasakan sensasi berbeda dari tiap kain yang ada, seperti bludru, bahan lembut, berbulu dan lain sebagainya. Konon anak gejala autis takut pada tekstur kain tertentu, jadi kita sebagai orang tua harus mengenal lebih dalam anak kita dengan berbagai cara, salah satunya denga mengenalkan berbagai tekstur.

Lalu anak masuk ke dalam ruangan yang di setting seperti  “ruang disko” kalo aku nyebutnya gitu. Karena gelap dan hanya diterangi lampu semacam cahaya disko gitu yang redup2 warna warni. Di kasur yang jadi alasnya juga bisa nyala2 gitu deh, bukannya anaknya yang seneng malah aku yang norak hahaha keren amat nih bisa nyala2 gini. Tapi Abang Shai malah minta nenen wakwawww doi ketakutan dong. Yah mungkin kamu lebih cocok jadi anak santri yak daripada disko ria gini hahaha..

Terakhir di gelarlah bubble wrap menempel di lantai yang sudah diberikan tumpahan warna. Anak2 disuruh berjalan sesukanya untuk melewati bubble wrap tersebut. Abang sukaaa bangeeet! Merangkak dengan semangat deh! Ada beberapa anak yang takut menginjakan kakinya di bubble wrap, seperti keponakanku hihihi. 

Terakhir di sediakan 3 bak kolam yang berisi penuh 3 tekstur yang berbeda, yaitu ada tekstur kering (sedotan warna warni di potong kecil2  dan bola bola plastik) dan tekstur basah (kalo ini aku lupa nyebutnya apa, tapi semacam biji2 warna warni lembek gt kaya jelly bean yang ada airnya, maaf ya kalo deskripsinya nggak jelas haha) 

Abang paling suka yang tekstur kering, terutama mandi bola karena sudah familiar dia liat di rumah sehari hari. Awalnya ogah masuk ke tektur basah, tapi setelah aku baca mood Abang dulu nih ok apa nggak, baru aku “cemplungin” ke tekstur basah deh hihi dan dia happy banget nggak mau keluar dari situ.

Overall kelas ini menyenangkan sekali buat baby. Mungkin deskripsi ku seperti layaknya sekolah (abis ini gini, abis itu gitu) tapi sebenernya berjalan dengan smooth dan menyenangkan aja seperti bermain. Prinsip dasarnya adalah tidak boleh memaksa bayi untuk suka, kalau Ia sudah tidak nyaman, yaudah kita ikutin aja. Hal ini juga didukung sama sang Psikolog pendamping kelas yang mengatakan, “bila anak nangis dan tidak nyaman, maka pengenalan tekstur apapun nggak akan masuk untuk dia”

Hari ini Insha Allah Abang akan ikutan lagi, horee! 

Moms dairy

Batpil Abang Shai

batuk berdahak bayi, demam bayiHai2 Abang Shai 3 minggu lalu terserang batuk berdahak dan flu juga (sedih akhirnya sharing tentang sakit lagi huhu)

Awalnya dia nggak mau makan, yang biasanya lahap sekarang babay deh liat makanan. Aku pikir dia bosen, ternyata sulit nelen karna lagi sakit tenggorokannya. Minggu malem tiba2 demam menghampiri badan abang, “tok, tok, tok, demam mo masuk yah” hahaha gt deh.. 

Agak panik juga si karena udah lama abang nggak demam gini, pas di cek 36,9 C, udah mau 37 dikit lagi. Sebenernya si masih itungan sumeng, tapi jadinya rewel dan tiba2 dahak terdengar dari mulut kecilnya. 

Aku dan suami bawa ke Dr. Sander karena kita cari yang terdekat dan yang ada setiap hari. Dr. Sander bilang harus di uap dan dahaknya harus dimuntahkan atau keluar lewat pup. Paling nggak sampai hari Kamis malam (dari Senin) keadaan Abang akan seperti ini menurut Dr. Sander.

Abang di uap dengan Suster Lusi yang berbadan tinggi besar untuk seukuran seorang suster. Abang dipangku suster tsb seperti melihat Abang sebagai Marsha dan Suster Lusi sebagai (and the) Bear hahaha maapkan acu suster baik hati, :p 

Suster Lusi dengan sabar mangku Abang yang berontak luar biasa mendapat pengalaman pertama kali di uap. Nangis2 kejar sampe badannya goyang sana sini (bukan goyang dombret ya wkwkwk) Jujur air mata udah diujung banget mau keluar juga karna super gk tega deh liatnya. Tapi harus cari akal supaya abang teralihkan nggak jerit2 kayak gitu. Setelah selesai di uap, Suster Lusi menawarkan kalau mau uap lagi, Suster Lusi bisa datang ke rumah pasien. Aku pikir boleh juga nih, secara aku nggak punya juga kan alat nebulizer.

Pulang dari RS malemnya panas lagi, aku kasih Tempra sesuai anjuran Dr. Sander kalau panas melebihi 37,8. Akhirnya besoknya turun demamnya. Mata masih kuyu banget, makan belum mau, aku akhirnya panggil Suster Lusi ke rumah. Untungnya beliau bisa dateng. Di uap di rumah Abang jerit2 lagi, nggak tega deh. Tapi abis itu dia tenang dan demam sumengnya turun. Dia jadi ceria lagi dan sempet mau makan. Tapii malamnya kembali demam lagi sampe 38an 😦

Rasanya dunia kayak kebalik deh. Aku capek karena abang rewel, mau di nenenin malah di dorong2 badanku, tapi di sisi lain kasian banget sama badannya yang lagi perang melawan virus flu..

Besokannya Suster dateng lagi, kejadian yang sama berulang lagi kaya De Javu aja, abis uap seneng – malem demam lg – besok paginya gk mau makan. Hari kamis yang ditargetkan untuk sembuh sama Dr. Sander udah terlewatkan, hari Jumat Paskah suster datang lagi, suster juga kaget kok masih demam aja Abang Shai? Obat2 yang Dr. Sander kasih menurutku belum terlalu canggih, masih taraf kaya Panadolnya orang dewasa deh. Ternyata Abang belum dikasih puyer. 

Malamnya Abang muntah buanyaaak banget sampe megap-megap gt, ada kali yah 15 menit gk berenti2 batuk dan muntah. Aku panik si karena takut pernafasannya terganggu karena gk tau cara berentiinnya gimana. Akhirnya kita bawa ke UGD Kemang Medical Care, nggak taunya dia bobo di jalan, sampe sana juga tetep bobok. Tapi demamnya turun Alhamdulillah, cuma batuk dahaknya masih ada. 

Aku putuskan Sabtu pindah dokter ke Dr. Hari Martono di RSPI, seorang Dr. senior dari suamiku kecil dokternya beliau ini. Pas di check, tenggorokan Abang merah banget. Trus Abang harus menjalani fisio juga, karena uap aja gk cukup. Uap juga harus dilakukan 2x sehari. Jadilah kita beli alat uap sendiri dan bolak balik fisio 3x. Obat yang diberikan juga lumayan banyak si, tapi aku nggak semuanya kasih ke Abang, karena kasian kan kalo kebanyakan kimiawi fisikawi dan wiwiwi lainnya yang masuk ke badan Abang. Alhamdulillah batuk Abang hilang. Walaupun BBnya turun 3 ons, tapi paling nggak abang sudah kembali ceria 🙂

Selama sakit kemarin, aku banyak kasih oles2 di badan Abang, supaya nggak kebanyakan minum obat. Berikut review oles2 yang aku berikan yah :

1. Y&L Myrtle 

Udah nggak asing lagi dongs sama oil yang lagi super heits beberapa tahun terakhir? Si kecil mungil dengan bejibun manfaat. Karna ada temen yang kebetulan jualan Y&L, aku jadi tau guna2nya apa aja. Pas liat postingan Abang Shai yg lagi sakit, si empunya jualan Y&L langsung hub aku untuk pake series yang Myrtle. Fungsinya banyak banget salah satunya bisa untuk gangguan pernafasan bayi. Karna aku juga ketularan flu dari Abang, jadi aku oleskan juga oil ini ke dada. Rasanya cespleng ya ingus. Bisa nafas sedikit2 haha, aromanya seger khas daun2 di taman (apose si haha lebay deh) tapi bener si, kayak ada daun2 gitu, ternyata ini dari minyak nabati pilihan. Karena harganya yang lumayan yaah bu ibuuk, jadi aku pake nya cuma mau tidur aja, efeknya ke Abang juga dia jadi gk terlalu rewel bobok malemnya.

2. Herbal Oil Kutus Kutus

Herbal Oil dari Bali ini, punya banyak keunggulan. Terdiri dari 49 tanaman herbal dan dipercaya bisa meringankan (aku gk mau pake kata menyembuhkan, karena yg Maha Penyembuh cm Allah SWT) 63 penyakit. Jadi Abang tiap abis mandi dan dijemur pagi selalu dipijet Kutus – Kutus. Aromanya enaak banget, khas rempah2. Abang juga dahaknya jadi keluar banyaak banget, tapi tentu yaa dengan bantuan obat puyer juga. Well at least Healing Oil Kutus Kutus banyak membantu orang yang ingin sembuh dari berbagai penyakit. Harga dan barang cukup sesuai kok.

2. Belli to Baby Cold and Flu

Kalo ini aku pernah ditawarin pas Abang berenang di Mom N Jo. Wanginya si enak, kayak peppermint gt. Waktu Abang flu sebelum ini udah pernah aku oles2 juga di baju dan bantalnya. Alhamdulillah ngaruh si, tapi kalo flu yang berdahak menurut aku agak kurang kerjanya. Tapi overall untuk jaga2 supaya gk tambah parah ok lah.

Well sekian yah review2 kali ini, semoga Abang sehat terus, aamiin.. 

My comment on what i see

nursing clothes

huiii, MumiShai udah lama yak gak crita2 soal perkembangan Abang Shai. Alhamdulillah Abang Shai udah masuk usia 10 bulan, nggak berasa 2 bulan lagi mau setaun, oemji boong si kalo gk berasa hahahaha, berasalah, banget! Apalagi dari hamil sampai Abang Shai lahir kan aktivitas kerja kantoran berenti total, jadilah berasa banget ya per detik nya membesarkan Abang Shai. 

Akhirnya Abang Shai memasuki fase GTM (gerakan tutup mulut) Mungkin antara dia baru mulai batuk jadi tenggorokannya kurang sip or karena akan ada gigi ke 4 yang numbuh. Sedih juga sih ngeliat dia yang biasanya Hap Hap aja kalo makan (kayak Muminya kalo dikasih duit Hap Hap aja hahahaha..) sekarang nutup mata sama mulutnya di monyong2in kalo disodorin makanan, kayak yang jijik gitu. Akhirnya maunya cuma minum sama nenen. 

Ngomongin soal nenen, ya namanya bocah lanang nenennya kuat banget sampe sekarang, nggak kenal tempat dan waktu deh. Belom lagi sekarang kalo nenen banyak gaya banget, sambil diri lah, nungging lah, joget kayang lah (gk denggg) haduhh super aktif deh bocah ini. Pernah beberapa kali di restoran Abang Shai gk mau pake nursing cover, maunya di goyang2in covernya, kan watalam baang, ini payudara momi kemenong2, selalu aku tutupin pake kepala anaknyah.

Tapi kalo nggak pake baju yang khusus untuk menyusui udah deh, nggak ngerti lagi, pasti kemana mana tu dari dada sampe PD, apalagi aku berhijab ria kan, nggak lucu dong pala ketutup badan ber “uwa uwa” kemana2 akibat Abang Shai yang susah pake nursing cover.. Jadilah aku kumpulin baju2 nursing.

Awalnya Ibu mertua yang beliin waktu hamil. Pas dipraktekin saat menyusui, maak enak banget yak pake baju khusus menyusui, karena area yang terbuka cuma ya bagian untuk menyusui, jadi walaupun nggak pake nursing cover tetep relatif aman deh.  Aku jadi langganan di beberapa merk nursing clothes dan cita2 pengen banget bikin sendiri, doain yaaaw

Berikut review nursing clothes versi mumishai : 

1. Baju Mamigaya


Yah ini sih udah sejuta umat yak bu ibuuk, yang nyusuin pasti udah nggak asing lagi denger brand ini. Selain murah, bahannya juga enak banget, adem dingin, pas lah buat emak2 nyusuin yang sering kepanasan. Baju Mamigaya folowers di IGnya udah buanyaak banget, sampe 50 K! Memang targetnya buat sehari2 ibu2 menyusui, jadi modelnya ya menurutku si kurang variatif, kebanyakan atasan bahan rayon dan ada juga yang bisa pasangan sama anaknya. Resellernya juga bejibun, di berbagai e-commerce tersedia deh. Aku suka dan hampir tiap hari pake koleksi mereka, karena emang enak banget bahannya buat sehari hari. 

2. Nyonya Nursing


Brand ini lebih digarap “serius” dari Mamigaya. Segmen pangsa pasarnya lebih jelas yaitu middle-Up (maklum yak mantan anak iklan harus ngerti bibit bebet bobot brand wkwkwk) catalog dan websitenya tertata rapih, dilihat dari model yang casual, hijab friendly, long dress sampe untuk acara formal semua lengkap di tata apik, nggak nyampur aduk. Karena mungkin namanya “Nyoya”, kesan ke”Ibu”an lebih terasa di lihat dari beberapa koleksi bajunya yang menggambarkan kedewasaan dan ditunjang sama model yang mengenakan koleksi mereka.

Aku beberapa kali beli disini sebelum tau Mamigaya (sampe sekarang si masih suka beli) Karena baju casualnya pun lebih banyak pilihan model dan bahannya juga enak2 seperti rayon, katun, spandex dan scub. Paling seneng kalo lagi diskon (namanya jg emak2 wkwkwk) bisa setengah harga deh dapet koleksi mereka dan worthed it si untuk harga kurang lebih Rp 119.000-Rp 300.000 total baju yang aku punya ada 6 baju dari koleksi Nyonya Nursing. Aku lagi nungguin next discountnya nihh
3. Emeno Nursing


Sama kayak Nyonya Nursing, Emeno juga termasuk middle Up segmen. Tapi kalo Emeno aku melihatnya lebih per “season” model2 bajunya. Jadi nggak sekali keluar langsung ngeluarin banyak koleksi. Aku baru pernah beli 2x si, karena jujur model2 bajunya terlalu sedikit yang hijab friendly. Favorit aku si model batiknya, nggak pasaran dan unik, ada bagian yang ngumpet harus dibuka dulu baru deh bisa nyusuin. Bahannya juga enak kok, adem nggak panas untuk acara2 kondangan yakaaan. Harga kisaran 200an.

4. Matroishka


Naah yang ini nih sekarang jadi favorit aku. Mereka hebat si menurutku membuat konsep dan target busui dengan memperhitungkan detail, dari segi ingin Ibu yang seperti apa yang kira2 akan menggunakan koleksi mereka sampai diaplikasikan pemilihan model/talent mereka pun beda dari yang lain, jauh dari kesan “emak2”, Matroishka mengesankan “be who you are”, walaupun sudah jadi Ibu, bukan berarti tidak bisa menjadi diri sendiri dan tetap aktif. 

Mereka menjunjung tinggi “Productives Moms”, jadi mereka hampir selalu berpartisipasi dalam acara Ibu2 yang produktif. Ditambah di IG mereka suka menampilkan sosok Ibu yang mewakili image mereka,seperti Ilma Rineta dan Krizia Alexa. Aku pernah dapet koleksi mereka sekali, terus dipake enak, nyaman dan stylish, bisa buat acara2 semi formal dan kece buat ootd (wkwkwkw penting) Akhirnya ketagihan produk2 mereka, selalu pengen tau breakthrough apalagi yang mereka buat. Senengnya lagi pernah menang foto kontes mereka hahahaha horeee!! Alhamdulillah selalu kedapetan koleksi mereka yang baru2, karena sold outnya super cepeeet. Jadi aku suka ke toko offlinenya di Moms and I Kemang. 

Sekian deh review2annya yaaah, semoga cita2ku punya clothing line sendiri tercapai yaak aaamiiinnnnn 

Moms dairy

#justought

Hai2 ternyata jadi momi di rumah itu nggak segampang yang dibayangkan sebelumnya, duduk diem di rumah, tapi harus bergelut dengan hati, kadang ingin kayak sebelum nikah, bisa prioritasin diri sendiri, kalau sekarang yang dipikirkan banyak banget jika mau mau melakukan sesuatu, karena pertimbangannya anak…